Langkah-langkah Untuk Mengendalikan Pikiran Anda

Pernahkah anda mengambil suatu kursus tentang cara mengontrol pikiran anda secara aktif? Pernahkah anda membaca sebuah buku tentang bagaimana cara berpikir?

Orang umumnya mengira bahwa mereka sudah mempelajari cara berpikir di sekolah dan mempelajari informasi tentang dunia. Tapi sekolah biasanya hanya mengajarkan anda satu cara untuk berpikir, yaitu mencari jawaban yang benar.

Untuk alasan tersebut, anda mungkin merasa tidak perlu untuk memikirkan tentang berpikir begitu anda sudah mendapatkan jawaban yang benar. Tidak ada kebutuhan untuk merenungkan ide-ide yang anda miliki atau kepercayaan yang anda pertahankan. Tidak ada kebutuhan untuk mengupdate skill-skill cara anda berpikir.

Tapi berikut ini masalah yang ditimbulkan dari pendekatan ini. Selama masa dewasa, anda harus berhadapan dengan ambiguity dari kehidupan, berbagai tantangan yang tidak cuma punya satu jabawan benar, dan berbagai masalah yang tidak punya solusi.

Anda perlu mencari berbagai cara untuk memperkuat dan mengembangkan pemikiran anda dalam berhadapan dengan perubahan konstan, naik turun, dan kehidupan yang penuh tekanan dan ketegangan yang tidak punya satu jawaban simpel. Jika tidak, maka hampir bisa dipastikan bahwa anda akan hidup dalam ketakutan.

Menurut saya menarik bahwa di aspek lain dari kehidupan, penting kebugaran fisik itu diterima dengan baik. Saya tidak akan heran jika anda punya program kebugaran fisik tersendiri. Mungkin anda berolahraga di rumah, atau sudah bergabung di fitness center, atau anda berlatih dengan seorang pelatih pribadi.

Saya tidak akan heran, juga, jika anda menyediakan waktu untuk menambah pengetahuan anda dengan membaca buku-buku mengenai cara mengatur keuangan atau berkonsultasi dengan seorang perencana keuangan.

Di tahun-tahun belakangan ini, sepertinya anda juga mungkin sudah banyak mempelajari tentang manajemen berat badan, manajemen waktu, dan manajemen keuangan.

Tapi bagaimana dengan manajemen pikiran? Manajemen pemikiran? Saya yakin anda belum menganggapnya penting.

Saya percaya bahwa jika anda belum meningkatkan skill-skill cara berpikir anda, maka sangat mungkin anda akan berpikir dalam cara yang lebih baik digunakan unutk menyelesaikan masalah kanak-kanak dibanding masalah orang dewasa.

Apakah anda ingat bagaimana anda memikirkan tentang dunia saat anda masih kecil?

Sama seperti anak muda pada umumnya, anda mungkin memikirkan tentang berbagai kejadian, situasi dan orang-orang dalam terminologi semua atau tidak sama sekali. Anda baik atau buruk, melakukan sesuatu yang salah atau benar, dan berada “di dalam” kelompok atau “di luar” kelompok.

Kisah-kisah dongeng juga mengoptimalkan cara berpikir hitam putih ini, dengan penyihir baik dan penyihir jahat, peri yang baik dan ibu tiri yang jahat, orang-orang baik dan orang-orang jahat. Akhir yang “bahagia selama-lamanya” berkontribusi pada jenis pemikiran yang sederhana ini.

Kita umumnya pernah mempelajari aksioma, “Bukan apa yang anda katakan, melainkan cara anda mengatakannya.” Kata-kata tersebut membantu kita untuk lebih sadar akan bahasa kita dan efeknya pada orang lain.

Tapi pernahkah anda mendengar aksioma “Bukan apa yang anda pikirkan, melainkan cara anda memikirkannya?” Coba pikirkan! Cara anda berpikir memiliki suatu efek yang luar biasa pada anda dan cara anda bereaksi terhadap dunia. Proses berpikir itu entah akan menambah ketakutan anda atau menghilangkannya.

Keputusan Besar, Keputusan Kecil

Suatu bagian yang sangat penting dari manajemen pikiran adalah memiliki kemampuan untuk membuat kepurusan-keputusan yang baik tanpa merasa cemas yang berlebihan.

Kehidupan modern menawarkan pilihan yang lebih banyak pada kita dibanding sebelumnya, yang menjadi anugrah atau malah kutukan. Beberapa pilihan itu bermanfaat, sedangkan yang lain hanya mengganggu, membingungkan kita, atau membuat hidup jadi lebih sulit.

Kehidupan modern memberikan banyak situasi dimana dengan begitu banyaknya pilihan yang ada, mungkin akan mudah membuat kita merasa kewalahan.

Itu mungkin hanya masalah-masalah kecil, sesuatu yang anda tahu tidak akan memberikan dampak yang besar tapi menyebabkan anda menghabiskan banyak waktu dan energi yang jauh lebih banyak dari yang sewajarnya.

Mungkin anda perlu membeli pakaian. Haruskah aku membeli yang ini atau yang itu? Apakah ini terlalu mahal? Haruskan aku mencarinya ditempat lain?

Tidak mampu mengambil keputusan bisa mengarah pada sama sekali tidak adanya keputusan, menjadi kecewa dengan keputusan yang sudah dibuat, atau membuat keputusan secara terburu-buru, misalnya pengeluaran yang berlebihan.

Bagaimana dengan keputusan-keputusan yang lebih substansial—entah itu menemukan suatu pekerjaan yang lebih menantang, entah itu menikah, entah itu bercerai, atau entah itu punya anak? Aku tidak tahu apakah ini waktu yang tepat. . . .  Aku begitu takut aku tidak bisa menghandle tanggung jawabnya. . . . Aku sangat takut aku akan membuat keputusan yang salah. . . . Saat ini usia ku sudah 40 tahun—mungkin sudah terlambat! Seharusnya aku mengambil langkah ini lebih awal, membuat pilihan yang berbeda, merencanakannya dengan lebih baik, memikirkannya dengan matang. . . .

Dengan semua kebingungan tersebut muncullah kepanikan dan rasa takut, tapi anda tetap tidak bisa memutuskan apa yang ingin anda lakukan.

Bagaimana anda bisa berhadapan dengan begitu banyaknya pemikiran yang saling bertentangan? Bagaimana anda bisa mendisiplikan pikiran agar menjadi lebih tegas? Bagaimana anda bisa berpikir kritis dan kreatif untuk membuat pilihan-pilihan yang lebih baik?

Pertanyaan-pertanyaan tesebut sangat vital dalam sebuah budaya yang menyediakan kita begitu banyak pilihan—mungkin jauh lebih banyak dibanding yang benar-benar kita butuhkan.

Pengambilan keputusan yang baik dan pikiran yang disiplin itu tidaklah otomais, atau pasif. Melainkan skill-skill yang harus anda pelajari, update, dan perbaiki saat anda memetakan arah hidup dan menemui tantangan-tantangan baru.

Tulisan ini akan membantu anda untuk melakukan itu.

Berpikir atau Terobsesi?

Salah satu skill paling penting yang bisa anda peroleh saat anda menaklukkan rasa takut adalah belajar cara membedakan antara berpikir dengan terobsesi.

Andrea, yang cenderung untuk menjadi Hypervigilant (sangat waspada), berusaha keras untuk tidur tapi sangat kesulitan untuk menghilangkan ke khawatirannya.

Dia tidak bisa berhenti terobsesi tentang segala hal. Tentang pakaian kotor yang perlu dicuci, mobil baru yang ingin dia beli, kartu ulang tahun yang dia beli untuk adiknya tapi lupa dia kirimkan, kebocoran di dapur yang memerlukan perhatian, kerugian besar dalam sahamnya yang memberikan perasaan nyeri di perutnya.

“Aku tidak bisa berhenti memikirkan hal-hal ini,” katanya. “Itu membuat ku kacau. Aku tidak bisa tenang. Aku tidak bisa tidur, dan kemudian, setelah gelisah sepanjang malam, aku merasa begitu kelelahan di pagi hari sehingga merasa sangat sulit untuk bangun.”

Proses berpikir Andrea yang berulang-ulang, tidak produktif itu sebenarnya sama sekali bukan berpikir, melainkan terobsesi, yang sebenarnya tidak menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya, dan meningkatkan serta memperkuat rasa takutnya. Obsesi adalah sebuah siklus berulang yang dia tidak bisa melepaskan diri darinya.

Berikut ini perbedaan utama antara berpikir dan terobsesi. Berpikir meliputi penalaran, perenungan, pertimbangan, penghubungan, penilaian, analisa, atau pengevaluasian suatu ide. Dia menggunakan pikiran anda dalam sebuah cara yang kreatif dan efektif.

Berpikir cenderung untuk menjadi produktif, berorientasi target dan aksi. Beberapa bentuk berpikir antara lain berpikir rasional linier, penyelesaian masalah, brainstorming, dan berkhayal kreatif.

Salah satu contoh berpikir adalah saat anda menimbang berbagai pilihan anda untuk mengikuti suatu kursus pendidikan.

Anda mempertimbangkan berbagai pilihan yang ada, menimbang berbagai kelebihan dan kekurangan dari program tertentu, membayangkan akan seperti kursus tertentu, dan memilah-milah berbagai masalah praktis yang menyangkut transportasi dan pendanaan.

Sebaliknya, terobsesi adalah saat pikiran anda sangat dikendalikan oleh satu emosi atau ide yang tidak bisa anda relakan. Terobsesi dimulai dengan Titik A tapi kembali lagi ke Titik A secara berulang-ulang.

Memang benar bahwa terobsesi itu adalah suatu bentuk dari berpikir, tapi itu adalah cara berpikir yang tidak efektif; dia berputar-putar diluar kendali, tapi akhinya tiba ditempat yang sama seperti saat anda memulai. Ini bukan cuma suatu proses yang tidak produktif, tapi juga kontra produktif.

Terobsesi itu selalu berhubungan dengan kecemasan, karena memikirkan pemikiran-pemikiran yang sama tanpa mendapat satupun solusi yang bermanfaat. Ketakutan dan kepenatan tumbuh subur di dalam siklus tertutup dari obsesi.

Suatu contoh dari terobsesi adalah urutan kekhawatiran berikut ini:

“Aku benar-benar harus mengambil program kuliah, tapi yang mana? Ada begitu banyak program, aku bahkan tidak tahu dari mana memulainya! Ada komunitas kuliah lokal, tapi mungkin tidak cocok untuk ku. Dan sekolah pendidikan dewasa, tapi program tersebut tidak mengaah pada suatu gelar.

Lagi pula apa yang harus aku pelajari? Apakah program bisnis? Program yang berhubungan dengan kesehatan? Ilmu komputer? Sesuatu yang lain? Ada begitu banyak pilihan yang aku tidak tahu harus bagaimana.

Mungkin lembaga teknis adalah yang paling tepat. Tapi aku tidak yakin bidang mana yang dipilih. Dan bagaimana aku akan membiayai kuliah ku? Mungkin dengan suatu pinjaman. Atau aku bisa mencoba beasiswa. Atau yang lain—oh aku bingung harus bagaimana!

Tapi aku benar-benar harus mengambil suatu program kuliah, haruskah aku mengambilnya? Aku merasa begitu bingung.”

Sskenario berikut ini menggambarkan bagaimana cara berpindah dari terobsesi menjadi berpikir, yang berakhir dengan suatu rencana aksi yang memuaskan.

Kembali Bekerja

Katakanlah anda sedang berjuang keras memikirkan suatu keputusan tentang apakah saat ini akan kembali bekerja secara full-time karena anak-anak anda sudah lebih besar. Jika terobsesi dengan masalah jenis ini bisa segera menjadi suatu latihan yang melelahkan, tanpa hasil.

“Aku benar-benar perlu mengembangkan karir ku, tapi bagaimana aku akan mampu melakukannya?” tanya anda pada diri sendiri.

“Lagi pula, perusahaan mana yang mau mempekerjakan ku? Bagaimana tidak ada perusahaan yang mau menerima ku? Aku tidak tahu cara memperbarui resume ku setelah bertahun-tahun menjadi ibu rumah tangga. Aku begitu gugup. Aku tidak akan mampu mengatasi interview.”

Berbeda dengan obesesif ini adalah proses sirkular dengan memikirkan tentang masalah kembali bekerja.

Anda mengatakan pada diri sendiri, “Nah, mari kita lihat. Ini adalah sebuah keputusan besar, tapi aku bisa membaginya ke dalam beberapa langkah, yang akan membuatnya jadi lebih mudah diatur.

“Langkah Pertama: Aku akan mencari seseorang untuk membantu menyusuri semua kemungkinan. Aku punya teman dan mantan rekan kerja yang bisa membantu ku untuk memperkirakan pilihan-pilihan ku. Aku akan menelpon dan melihat apa yang akan mereka katakan.

Langkah Dua: Aku akan memperbarui resume ku dan menulis contoh kop surat. Aku bisa menyelesaikannya pada akhir minggu. Langkah Tiga: Proses interview mungkin akan sulit, tapi aku pernah melakukan sebelumnya, jadi kurasa aku mampu melakukannya lagi.

Langkah Empat: Rencana ini kedengarannya bagus, dan aku tahu akan bermanfaat bagi ku dalam jangka panjang. Sekarang waktunya untuk menerapkan keputusan ini.

Pertama-tama aku akan berbicara dengan teman ku, kemudian mencari beberapa informasi mengenai interview. Aku harus mengatur jadwal ku dan mendelegasikan sebagian dari tugas rumah tangga, tapi aku juga bisa melakukan itu.

 Dan meski terkadang hidup itu sangat melelahkan, tapi kita semua menyesuaikan diri.”

Seperti yang bisa anda lihat, proses berpikir ini tidak membuat masalah-masalah yang rumit menjadi hilang, melainkan membuat anda bisa menyortirnya secara lebih sistematis dan menghadapinya satu persatu dalam suatu cara yang lebih produktif.

Hindari Paralysis of Analysis

Jenis berpikir sia-sia lainnya yang berasal dari rasa takut adalah terjebak di dalam paralysis of analysis. Meksi sudah banyak melakukan penelitian, perenungan, dan perencanaan, tapi anda merasa belum juga mampu membuat keputusan atau mengambil langkah maju.

Paradoksnya, semakin banyak analisa yang anda lakukan, semakin bingung jadinya.

Lebih Banyak Bukan Berarti Lebih Baik

Janice mengalami paralysis of analysis setiap kali mencoba mengambil keputusan mengenai sesuatu yang penting. Sebagai seseorang yang suka mengontrol, dia tidak menjadi terobsesi tentang situasi apapun yang dia hadapi, tapi dia cuma terlalu banyak mengakumulasi informasi.

Hasilnya adalah bahwa dia menjadi macet saat mencoba untuk memahami semuanya. Akhir-akhir ini, dia sedang mencoba untuk memutuskan di taman kanak-kanak mana Kenneth, yaitu anaknya yang berusia 4 tahun, akan bersekolah.

“Aku senang menjadi sistematis mengenai pilihan-pilihan ku,” kata Janice, “Jadi aku sudah banyak mengumpulkan data mengenai sekolah-sekolah yang ada di wilayah kami. Aku tidak ingin kehilangan satu pun kemungkinan.

Selain itu, secara artistik Kenneth itu berbakat, dan aku ingin memastikan dia mengikuti taman kanak-kanan yang akan banyak memberikannya project-project menarik untuk menantangnnya.”

Awalnya, Janice merasa senang bisa menemukan lebih banyak sekolah dibanding yang dia harapkan. Tapi peningkatan jumlah dan variasinya telah berkembang jadi membingungkan.

“Ada begitu banyak! Sebagian aku temukan melalui yellow pages, selebihnya melalui rekomendasi, dan masih ada lagi data dari pencarian melalui Web. Kemudian aku menelpon tempat-tempat ini dan berbicara dengan berbagai direktur melalui telpon.

Itu sungguh menyenangkan—Aku punya banyak sekali pilihan. Tapi program-programnya begitu berbeda! Aku bingung untuk mencari tahu cara membandingkan antara satu dengan yang lain—atau bahkan apakah memang sebagian dari sekolah-sekolah ini bisa dibandingkan.”

Untuk menelusuri semua kemungkinan, Janice telah membuat sebuah tabel yang melisting attribut dari masing-masing sekolah, misalnya ukuran, biaya, rasio antara guru dan siswa, program-program spesial, dan seterusnya.

Tapi sepertinya bahwa semakin banyak data yang di kumpulkan, dia jadi semakin bingung dan takut bahwa entah bagaimana dia akan melakukan kecerobohan dan mengirimkan Kenneth ke suatu sekolah yang tidak sesuai dengan kebutuhannya.

Cukup itu Cukup

Debbie bangga akan kompetensi dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tugas dalam kehidupannya. Tapi selama mengerjakan suatu project untuk merenovasi kamar keluarganya, dia mendengar tudingan mengejutkan dari putrinya yang berusia 13 tahun.

“Jacqueline mengatakan, ‘Ma, Mama membuat kami bingung. Buatlah satu keputusan dan berhentilah membuat semua orang kesal. Maksud ku, inikan cuma kamar tidur!’

Dan aku menyadari bahwa dia benar. Aku benar-benar dikuasai oleh project tersebut. Setiap hari adalah suatu krisis baru.

Ada keputusan lain yang harus dibuat, dan aku begitu bingung tentang pilihan yang terbaik sehingga aku membuat semua orang menjadi kesal—bukan cuma keluarga ku tapi juga dekorator dan asistennya.

Aku terus mengubah pikiran ku setiap hari dan merasa tidak puas dengan pilihan-pilihan yang sudah aku buat.”

Realisasi ini mengarah pada beberapa pemahaman penting.

“Aku sadar analisa ku secara terus menerus itu membuat ku kehilangan antusiasme terhadap project,” kata Debbie. Aku sangat sengsara saat merehab kamar tidur dan itu memalukan karena aku sudah menantikan project ini selama bertahun-tahun.

Saat itulah aku menyadari bahwa aku harus tenang. Jika tidak, aku bisa merusak semuanya. Rasanya menakutkan untuk benar-benar merelakan dan mengatakan, Oke, ini adalah pilihan ku—tidak ada lagi perubahan. Itu sulit bagi ku karena aku senang mengatur setiap detil kecil dari suatu project.

Tapi aku menyadari bahwa aku tidak tahu kapan waktunya untuk berhenti. Aku perlu ingat bahwa dekorator yang aku pilih itu punya reputasi yang bagus. Jadi, kepada tidak mempercayainya untuk benar-benar menyelesaikan tugasnya?

Aku tidak perlu menebak-nebak semua tindakannya dan menganalisa semua yang sedang dilakukannya.”

Rekomendasi saya dalam situasi seperti ini adalah menjadi lebih pintar dengan mengurangi pemikiran tentang masalah-masalah yang merisaukan anda. Adalah hal yang mungkin bahwa anda telah keliru dengan mengira bahwa makin banyak memikirkannya itu makin baik.

Makin banyak berpikir itu mungkin hanya membuat makin bingung. Terlalu banyak pilihan, terlalu banyak analisa, dan terlalu banyak keinginan bisa meningkatkan paralysis anda.

Jangan merasa bahwa anda memerlukan semua detil data untuk membuat keputusan. Jangan berasumsi bahwa memperpanjang analisa data itu akan selalu memberikan hasil yang lebih baik.

Semua analisa mencapai suatu titik hasil yang menurun, dan sebagian dari keputusan yang baik itu mengambil tempat dalam waktu yang relatif lebih cepat, baik berdasarkan pada intuisi maupun penaksiran data yang tak berujung.

Brainstorm Dalam Arah yang Berlawanan

“Aku benci pekerjaan ku,” kata Marianne. “Aku ingin berhenti, tapi aku takut. Aku punya suatu pekerjaan yang membuat ku bisa memenuhi kebutuhan dan memberikan ku asuransi kesehatan, status, dan tanggung jawab. Aku merasa khawatir tentang merelakan semua keuntungan tersebut, sehingga aku melakukan kesalahan pada sisi kehati-hatian.”

“Bagaimana jika anda tidak melakukan kesalahan pada sisi kehati-hatian?” tanya temannya. “Bagaimana jika anda melakukan kekeliruan pada sisi resiko? Lalu apa yang akan anda lakukan?”

Sebuah senyuman segera tampak di wajahnya. Dengan girang dia mengatakan, “Aku akan berhenti dari pekerjaan ku hari ini, melakukan liburan selama satu bulan, dan setelah itu memulai bisnis ku sendiri.”

Tapi akhirnya, Marianne tidak jadi berhenti dari pekerjaannya hari itu, tapi dia memang berhenti enam bulan kemudian. Dia melakukan kesalahan pada sisi resiko—dan itu memberikan hasil yang baik baginya.

Saat ini dia adalah pemilik dari sebuah perusahaan kecil yang bergerak di bidang humas. Dia menyukai pekerjaannya, dan dia mendengar dari beberapa orang di perusahaan PR lamanya yang, kemudian ternyata, di PHK.

“Siapa yang akan tahu bahwa saat aku mengambil resiko itu,” kata Marianne, “itu bukan cuma hal terbaik yang aku lakukan pada diri sendiri, tapi juga ternyata aku berada pada posisi yang jauh lebih ringan dibanding teman-teman ku yang tetap bekerja pada perusahaan.”

Tapi brainstorming bukanlah sekedar suatu proses berpikir dalam arah yang berlawanan. Tapi dia juga bermanfaat sebagai suatu metode untuk menghasilkan banyak kemungkinan solusi dari suatu masalah.

Anda bisa melakukannya sendirian, dengan seorang teman, atau dalam suatu kelompok kecil, misalnya keluarga anda. Penting untuk tidak menolak suatu kemungkinan solusi hanya karena terdengar konyol atau sangat sulit untuk dilakukan.

Dengan brainstorming, anda bisa membiarkan pikiran untuk melayang ke arah manapun agar bisa menghasilkan kemungkinan solusi (tidak harus realistis atau mungkin). Jika anda bisa melakukan suatu usaha untuk mengubah cara anda berpikir, maka hasilnya mungkin akan membuat anda terkejut.

Sepertinya bahwa anda akan membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang belum pernah terpikirkan, kemungkinan yang mungkin membawa anda kearah baru yang menggairahkan. Brainstorming memperkaya pemikiran anda. Itu mudah untuk dilakukan.

Tidak ada ruginya untuk mempertimbangkan berbagai alternatif, dan anda bisa melakukannya secara gratis.

Membingkai Ulang Situasi

Orang umumnya tumbuh dewasa dengan pemikiran bahwa apa yang mereka asumsikan untuk menjadi benar itu, pasti, benar.

Mereka tidak menyadari bahwa kita semua membentuk realitas yang berdasarkan pada pengalaman, sejarah keluarga kita, sensitivitas biologis kita, budaya dan agama kita, prasangkan kita, kecenderungan kita, dan jaringan sosial kita.

Kita tidak hanya hidup di dalam dunia—secara aktif kita memaknai dunia dan pengalaman kita di dalam dunia dalam sebuah cara yang kita anggap natural. Apapun yang berada diluar jalur kita kemudian kita anggap tidak natural.

Pemaknaan pengalaman kita ini dirujuk sebagai framing (membingkai). Secara aktif mengubah pemaknaan anda itu disebut reframing (membingkai ulang).

Membangun Sebuah Realitas Baru

Berikut ini sebuah contoh yang saya harap bisa anda hubungkan. Kita semua tahu orang-orang yang memandang gelas setengah penuh dan sebagian lain yang memandangnya sebagai setengah kosong.

Kita menyebut yang pertama sebagai optimis dan yang kedua sebagai pesimis. Siapa yang benar? Jika anda memilih optimis, selama! Anda memilih jawaban yang benar.

Jika anda memilih pesimis, selama juga untuk anda! Anda juga memilih jawaban yang benar! Bisakah ada dua jawaban yang benar? Tentu saja, tergantung cara anda mengartikan dunia anda.

Jika anda ingin berubah dari pesimis menjadi optimis, atau dari orang yang gugup menjadi orang yang tenang, anda perlu belajar cara untuk me-reframe. Dalam sebagian besar situasi, yang penting itu bukanlah realitas misalnya (ada 4 ons air di dalam gelas) melainkan cara anda memandang realitas.

Apakah anda mengartikan sesuatu sebagai baik atau buruk? Apakah anda memandang pada apa yang anda miliki atau yang tidak anda miliki?

Jika anda hidup dalam ketakutan, anda sudah mengembangkan suatu framework dimana anda terbiasa dan secara otomatis memandang situasi sebagai menakutkan—entah situasi tersebut memang menakutkan atau tidak.

Sekarang waktunya untuk menghentikan kebiasaan situasi melalui sebuah lensa ramalan dan mulai memandang situasi yang sama dalam sikap yang berbeda. Berikut ini salah satu cara untuk melakukannya.

Anda telah diminta untuk mengajarkan suatu program komputer kepada para supervisor di dalam perusahaan anda. Frame original: Menakutkan! Pemikiran-pemikiran yang menyertai frame ini:

  • Aku tidak mampu melakukan ini!
  • Bagaimana caranya agar aku bisa menghindari ini?
  • Aku akan mempermalukan diri ku sendiri!
  • Kenapa harus aku?

Dari pada terus mengartikan situasi ini sebagai suatu masalah, hentikan proses berpikir anda. Sekarang reframe. Bentangkan imajinasi dan pikiran anda: bagaimana aku bisa memandang situasi ini dengan cara yang berbeda? Reframe: menggairahkan! Pemikiran-pemikiran yang menyertai reframe:

  • Suatu peluang yang sangat bagus!
  • Bagaimana caranya agar aku bisa membuatnya berhasil?
  • Ini adalah suatu kesempatan yang sangat bagus.
  • Ini adalah peluang ku agar bisa menonjol.

Saat anda membingkai ulang suatu situasi, selain untuk memandang realitas anda secara berbeda, anda juga mungkin perlu melakukan sesuatu yang berbeda untuk membuat interpretasi baru menjadi sukses.

Dalam contoh sebelumnya, mengubah frame anda dari menakutkan menjadi menggairahkan adalah bagian awal dari proses. Bagian kedua adalah bekerja keras untuk memastikan bahwa, memang, anda menonjol.

Jika anda lalai untuk mengambil aksi yang mendukung pemikiran baru anda, itu mungkin akan menjadi bumerang bagi anda, membuat anda jadi lebih memihak pada interpretasi awal anda (“Benar bukan, itu menakutkan. Aku benar-benar tidak mampu melakukannya.”)

Tapi di saat lain, reframing tidak memerlukan aksi pendukung, hanya sekedar menikmati suatu cara inovatif untuk berpikir.

Anda ingin belajar cara-cara kreatif untuk membingkai ulang suatu situasi? Dengarkan anak-anak kecil yang belum di cuci otaknya untuk berpikir bahwa semuanya memiliki suatu jawaban benar—dan jawaban benar itu adalah apa yang dipikirkan oleh orang lain.

Bebaskan Diri Anda dari Hasil

Sampai satu generasi yang lalu, orang umumnya berasumsi bahwa mereka tidak mampu mengontrol hasil dari banyak kejadian dalam hidup. Orang-orang menerima bahwa kejadian-kejadian itu terjadi begitu saja; anda tidak membuatnya terjadi.

Misalnya anak-anak “lahir,” mereka tidak direncanakan. Anda tidak bersusah payah memilih karir ideal, anda hanya “mendapat suatu pekerjaan.” Tapi saat ini, karena kita memang miliki kendali lebih banyak atas hidup, kita merasa sedih saat kita tidak bisa mengontrol nasib kita.

Jika anda bisa membebaskan diri dari berharap bahwa hasilnya harus selalu menguntungkan anda, maka rasa takut anda akan menghilang. Ini tidak berarti bahwa anda harus menjadi tidak peduli terhadap apa yang terjadi sebagai hasil dari pilihan dan aksi anda.

Melainkan, itu berarti bahwa anda perlu menerima realitas berikut ini: Meski anda bisa membuat keputusan dan aksi dalam merespon suatu situasi, tapi anda tidak bisa memaksakan suatu kejadian tertentu agar terjadi. Anda tidak bisa selalu berada dalam kontrol.

Tenangkan Pikiran

Mudah untuk mengatakan “Tenang saja,” tapi bagi banyak orang, itu benar-benar suatu hal yang sulit untuk di lakukan. Namun, itu tetap suatu target yang sangat baik untuk dikejar.

Jika anda bisa memperoleh suatu kondisi pikiran yang tenang, maka kemungkinan anda untuk terjebak dalam pola pemikiran obsesif jadi berkurang. Anda akan berpikir lebih jernih dan punya energi lebih banyak karena anda menghadapi situasi dengan berbagai pilihan dan keputusan yang lebih matang.

More aboutLangkah-langkah Untuk Mengendalikan Pikiran Anda

Memahami Proses Perubahan

Nah, sekarang anda sudah lebih mengerti kenapa anda menjadi begitu penakut. Anda sudah hidup dengan cara seperti ini untuk jangka waktu yang lama, tapi sekarang anda sudah siap—atau setidaknya sedang bersiap—untuk berubah.

Bagaimana anda bisa membuat perubahan-perubahan tersebut terjadi? Bagaimana anda bisa belajar skill-skill yang diperlukan untuk membuat hidup jadi lebih baik bagi diri sendiri?

Mungkin anda sedang membayangkan tentang betapa menyenangkannya jika anda cuma tinggal menjentikkan jari, lalu perubahan terjadi begitu saja. Sebagian orang mengatakan seolah-olah seperti itulah perubahan akan terjadi.

Saya yakin anda pernah berhadapan dengan teman, anggota keluarga, rekan kerja, bahkan orang yang sama sekali tidak dikenal, yang percaya bahwa anda bisa menghilangkan rasa takut hanya dengan kekuatan kemauan.

Mungkin sebagian dari orang-orang tersebut pernah mengatakan pada anda, “Tidak ada yang perlu ditakutkan,” “Jangan takut,” “Jangan begitu pemalu,” “Jangan terlalu khawatir,” “Kuatkan tekad mu,” atau pernyataan-pernyataan yang serupa. Tapi anda dan saya tahu bahwa tidak semudah itu.

Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang Perubahan

One doesn’t discover new lands without consenting to lose sight of the shore for a very long time.

—André Gide

Hanya dengan disuruh atau ingin berubah, bukan seperti itu cara terjadinya perubahan. Perubahan itu adalah sebuah proses, bukan suatu kejadian instant.

Waktu akan mengubah anda. Kondisi kehidupan akan mengubah anda. Pilihan yang anda buat akan mengubah anda. Tapi anda tentu tidak ingin hanya menunggu sampai event-event tersebut terjadi dengan sendirinya. Anda ingin menjadi pro-aktif dan membuat perubahan terjadi.

Selain itu, anda pasti ingin menghindari perubahan terjadi ke arah yang berlawanan—menjadi semakin takut atau menciptakan suatu kejadian yang lebih membatasi kehidupan bagi anda. Saat anda secara sadar mulai berubah, akan lebih membantu bagi anda untuk menghargai konsep-konsep berikut ini:

  • Perubahan itu pasti terjadi.

Mencoba menghentikan perubahan itu sama seperti menghentikan arus sungai. Itu tidak mungkin. Betapa pun banyaknya energi yang anda habiskan untuk usaha ini, kekuatan sungai akan jauh lebih besar dibanding anda.

Jadi, kenapa tidak memiliki suatu pemikiran yang terbuka dan menerima perubahan, dari pada menolaknya secara otomatis?

  • Perubahan itu tidak selalu sulit atau menyusahkan.

Sebagian perubahan itu sebenarnya mudah dan menyenangkan, jadi jangan panik saat anda mendengar bahwa akan terjadi suatu perubahan.

Saat anda menjadi lebih nyaman dengan perubahan, anda akan percaya bahwa apapun perubahan yang perlu anda buat, atau betapapun awalnya anda menolak terhadap suatu situasi baru, tapi pada akhirnya anda akan tetap harus menghadapinya.

  • Perubahan mungkin sebenarnya membuat hidup anda jauh lebih nyaman dan menyenangkan setelah anda mengadopsinya.

Beberapa contohnya adalah mempelajari cara menggunakan komputer, menghilangkan keengganan anda untuk berolahraga, dan merelakan kebutuhan anda untuk mengontrol suatu hubungan.

Memang, jangan kaget jika sebagian perubahan yang awalnya anda perangi malah akan menjadi aspek yang paling anda senangi dari kehidupan anda.

  • Penolakan anda untuk berubah itu seringkali adalah suatu pertentangan antara faktor-faktor yang berlawanan dengan kepribadian anda sendiri.

Bukanlah hal yang tidak biasa jika suatu bagian dari anda (bagian pengambil resiko) ingin merasakan hidup dalam semua variasinya yang tak terbatas, sementara sebagian lain dari diri anda (bagian yang berhati-hati) sangat ingin keluar dari bahaya.

Agar perubahan bisa terjadi, anda harus menemukan suatu cara agar kedua bagian dari diri anda ini bisa seiring sejalan.

  • Takut terhadap perubahan itu biasanya takut terhadap ketidak tahuan.

Saat anda semakin banyak tahu tentang apa yang akan anda hadapi atau orang yang bisa membantu anda menghadapinya, maka sebagian besar situasi akan menjadi semakin kurang menakutkan.

  • Perubahan itu umumnya lebih mudah jika anda menghadapinya secara bertahap.

Meski beberapa perubahan besar dalam hidup mungkin menyerang anda tanpa peringatan, tapi akan membantu untuk menghadapinya selangkah demi selangkah. Anda tidak harus menghadapi semuanya sekaligus.

Anda bisa bergerak dengan kecepatan yang anda pilih untuk mengadaptasi realitas-realitas baru. Berikan diri anda waktu yang diperlukan untuk mengijinkan cara-cara baru agar menjadi lebih familiar dan nyaman.

Jadi pertanyaannya bukanlah apakah anda akan berubah, melainkan berapa banyak dan dalam cara yang bagaimana.

Akankah anda berubah tanpa kesadaran atau kemauan—hanya membiarkan perubahan terjadi tanpa kejelasan atau pemikiran atau pilihan?

Atau akankah anda mengevaluasi dan menyambut perubahan dengan mata dan pikiran terbuka?

Menghadapi Perubahan dengan Sikap yang Tepat

Sama seperti setiap perubahan yang ingin anda capai—entah itu tentang belajar untuk menggali rasa percaya diri atau belajar untuk membuat keputusan-keputusan yang lebih baik—ada tiga syarat awal untuk mengendalikan rasa takut:

1. Mengakui Rasa Takut Sebagai Suatu Sikap Inti

Untuk melakukan perubahan yang bermakna, anda harus jujur pada diri sendiri. Anda harus berhenti menyalahkan orang lain atas kesulitan anda. Anda perlu berhenti membenarkan rasa takut anda, berhenti percaya bahwa anda tidak punya pilihan lain selain hidup dalam ketakutan.

Anda perlu mengakui bahwa rasa khawatir yang kronis, kepercayaan yang pesimis, pemikiran yang obesif, tidak adanya keputusan, dan suatu kebutuhan tak berujung untuk mengontrol, itu adalah gejala-gejala dari rasa takut maladaptive.

Dengan mengakui masalah membuat anda bisa mengenali bagaimana rasa takut telah membatasi pilihan-pilihan anda, menghisap habis energi anda, dan menghambat kemampuan anda untuk berkembang.

2. Sadari Bahwa Anda Bisa Berubah

Orang umumnya tidak suka menjalani hidup yang penuh kecemasan, terbebani oleh ketakutan. Tapi mereka merasa bahwa mereka tidak punya pilihan lain.

Jika anda masuk ke dalam kategori ini, anda mungkin percaya bahwa rasa takut anda itu adalah kecenderungan dari kepribadian anda, bahwa itu adalah “apa adanya diri anda” dan bahwa anda tidak bisa melakukan apapun untuk mengubahnya.

Saya anjurkan anda untuk memandang rasa takut bukan sebagai sifat yang mantap, melainkan suatu sikap, suatu kecenderungan, suatu watak, suatu pola hidup yang bisa anda ubah.

Sama seperti anda bisa mendapakan skill-skill fisik, kecerdasan, dan emosional—dari mengendalikan emosi untuk mempelajari teknik-teknik pengendalian diri—anda juga bisa mendapatkan skill-skill yang membantu anda untuk tetap tenang dan menanamkan keberanian.

Percaya bahwa anda bisa mengubah pola hidup anda berarti anda tidak lagi bergantung pada keajaiban atau khayalan—“Andai saja hidup ku berbeda,” “Andai saja aku terlahir sebagai orang yang pemberani,” “Dimana orang yang akan menyelamatkan ku?”—dan menempatkan anda di kursi pengendali.

3. Menyambut Perubahan

Terakhir, perrsiapan untuk berubah itu menyertakan suatu keputusan untuk menyambut perubahan. Anda sudah lama hidup dalam ketakutan; sekarang waktunya untuk menjelajahi cara lain untuk menjalani hidup.

Sekarang waktunya untuk berpindah dari ketidak berdayaan (“Inilah diri ku; Aku tidak bisa berubah atau bahkan mengadaptasi, mengubah, atau menghilangkan respon-respon ku”) ke harapan (“Aku adalah orang yang berkembang, dinamis, cerdas, yang tidak harus terus terperangkap; Aku bisa memodifikasi, memperbaiki, dan mengubah respon-respon rasa takut ku”).

Sekarang waktunya untuk bergerak dari fokus pada kelemahan-kelemahan anda (“Aku tidak mampu melakukan ini”) ke fokus pada kelebihan-kelebihan anda (“Aku bisa melakukan ini”).

Sama seperti banyak hal, skill-skill yang akan anda pelajari di sini akan membutuhkan waktu untuk dipahami, diterapkan, dan dikuasai. Butuh waktu untuk menangkap konsep-konsep baru dan mengembangkan skill-skill baru.

Juga butuh waktu untuk menghargai bagaimana mendapatkan skill-skill ini akan membantu mengubah hidup anda. Bersabarlah dan miliki keyakinan bahwa anda akan sampai ke tempat yang ingin anda tuju.

Berbagai Rintangan di Jalan Menuju Perubahan

Ini bukanlah berarti bahwa anda akan tiba ditempat tujuan tanpa berhadapan dengan naik turunnya gelombang yang menghadang. Peringatan adalah persiapan. Berikut ini beberapa kesulitan umum yang mungkin akan anda hadapi.

Jalan yang Bergelombang

Tidak peduli betapa pun anda mengatakan bahwa anda termotivasi untuk berubah, tapi anda bisa merasa yakin bahwa rasa takut anda akan menyerang. Anda mungkin bukan cuma akan merasa ragu dengan usaha yang dibutuhkan untuk berubah, tapi juga merasa ragu dengan keinginan untuk menjadi berani. Kenapa?

Karena apa yang anda inginkan secara sadar mungkin bukanlah agenda utama dari keinginan bawah sadar anda. Mungkin ada sebagian dari diri anda yang tidak ingin berkembang dan harus berhadapan dengan situasi yang menakutkan, beresiko dan tidak menentu.

Mungkin anda hanya ingin masalah anda diatasi oleh orang lain atau berharap mendapatkannya tanpa harus bersusah payah, keamanan tanpa resiko, dan perubahan tanpa usaha.

Terkadang motivasi anda naik turun dalam mengejar proses perubahan. Anda mungkin merasa seolah-olah terperangkap dengan masalah yang sama dalam cara yang sama. Anda mungkin merasa gelisah, terganggu, atau tidak sabar dengan diri sendiri atau orang lain.

Anda mungkin merasa tenang dan nyaman selama satu minggu, kemudian merasa bingung tentang apakah anda sudah mengalami kemajuan. Anda mungkin berada diluar jalur. Anda mungkin merasa bahwa jalannya terlalu menanjak atau jauh, atau bahwa anda sudah mencapai titik batas dan tidak bisa pergi lebih jauh lagi.

Tenanglah. Perubahan itu rumit, dan adalah wajar bagi orang-orang untuk merasa bahwa perkembangan mereka tidak mantap atau mulus. Bahkan, jalan untuk perubahan itu lebih sering tidak rata dan mulus.

Kemunduran akan terjadi, tapi itu tidak berarti anda sudah kalah, melainkan anda cuma perlu kembali ke jalur dan tekun. Yakini prosesnya. Bersabarlah. Perubahan itu hampir selalu terjadi secara perlahan dan bertahap, sedikit demi sedikit, tidak terjadi secara sekaligus lalu mengubah diri anda untuk selama-lamanya.

Frustasi, bingung, dan ragu itu wajar. Jangan biarkan semua itu menghentikan anda untuk terus bergerak maju.

Lupakan Apa yang Sudah Anda Pelajari

Fears are educated into us and can, if we wish, be educated out.

—Karl Menninger, M.D.

Kecuali jika anda baru dilahirkan kemarin, berarti anda sepertinya harus melupakan beberapa hal yang sudah anda pelajari. Ini benar untuk hal-hal besar, misalnya melupakan respon rasa takut, dan ini juga benar untuk hal-hal kecil, misalnya mencoba makanan baru dari pada menolaknya secara otomatis.

Anda mungkin enggan untuk mengubah cara anda berpikir. Anda mungkin menjauh dari kebutuhan untuk mengubah perilaku yang telah tertanam di dalam kepribadian anda.

Tapi jauh di dalam, anda tahu bahwa jika anda terus melakukan hal yang sama dengan cara yang sama, maka anda akan selalu berakhir ditempat yang sama. Dan anda benar-benar tidak ingin terus terperangkap dalam ketakutan, betul?

Ingat, anda tidak harus merasa suka untuk melupakan cara-cara lama; anda hanya harus melakukannya. Kenapa? Karena perulangan adalah satu-satunya cara untuk berubah.

Khawatir Tentang “Kantung-kantung Ketidak tahuan”

Mungkin rasa takut anda untuk berubah itu di dasarkan pada ke khawatiran bahwa situasi-situasi baru akan mengekspose ketidak tahuan anda pada orang lain.

Dengan orang-orang baru, aktivitas-aktivitas baru, atau percakapan-percakapan baru, anda mungkin takut bahwa anda orang lain akan mengetahui betapa tidak layaknya atau tidak kompetennya diri anda sebenarnya.

Selama bertahun-tahun, saya memperhatikan bahwa semua orang—tanpa kecuali—memiliki apa yang saya sebut “kantung-kantung ketidak tahuan.” Yaitu seolah-olah anda absen selama satu minggu di kelas 3 SMP dan entah bagaimana anda tidak pernah mendapat pelajaran yang menjadi bagian dari kurikulum minggu tersebut.

Atau anda berlibur selama satu minggu hingga ketinggalan berita-berita penting, sehingga anda tidak tahu apa yang sepertinya diketahui semua orang. Mungkin anda tidak pernah mempelajari apa arti kata “paradoxical.” Atau mungkin anda tidak tahu siapa itu Luciano Pavarotti.

Atau mungkin anda tidak pernah tahu apa yang anda tidak ketahui, sampai orang lain mulai membicarakan sesuatu dan anda merasa tidak tahu apa-apa.

Dan sekarang anda merasa malu bahwa orang lain akan mengetahuinya, sehingga anda menjauhi situasi atau percakapan tertentu. Pada akhirnya, menghindar jadi suatu kebiasaan. Hingga tanpa anda sadari, anda sudah menghilangkan salah satu aspek dari kehidupan anda.

Hidup bukanlah suatu perlombaan dimana orang yang paling banyak tahu lah yang menang. Yang lebih penting itu adalah terus berkembang dan belajar. Kekalahan sebenarnya adalah saat anda sama sekali melarikan diri, takut bahwa ketidak tahuan anda akan diketahui orang lain.

Mengabaikan Apa yang Anda Ketahui Secara Tidak Sadar

Cara lain dimana anda mungkin menghalangi proses perubahan adalah dengan mengabaikan apa yang anda ketahi secara tidak sadar atau secara insting.

Saya yakin ada banyak hal yang anda ketahui, tapi anda tidak benar-benar tahu bahwa anda mengetahuinya sampai orang lain mengatakannya.

Saat anda belajar untuk menghormati pengetahuan bawah sadar, maka perubahan akan menjadi lebih mudah bagi anda, karena anda akan mampu untuk menghilangkan apa yang jadi masalah yang sebenarnya.

Gary mengatakannya dengan sangat baik saat dia menyatakan, “Ada banyak hal yang aku pelajari dalam terapi yang sudah aku ketahui tapi tidak bisa aku akses. Aku mengetahuinya pada level tidak sadar. Aku tidak benar-benar jernih atau fokus mengenai itu sampai ahli terapi ku mengungkapkannya secara terbuka.”

Kemudian dia memberikan suatu contoh. “Aku biasanya merasa tidak nyaman saat bersama adik tiri ku, tapi aku tidak pernah tahu kenapa. Ahli terapi ku mengatakan, ‘Dia terdengar seperti orang yang mengintimidasi. Saat dia mengatakan sesuatu, anda terdiam. Dugaan saya adalah anda merasa bahwa anda tidak mampu menyaingi dia.’ Begitu ahli terapi ku mengatakan itu, aku tahu bahwa itu benar.”

Begitu Gary memahami masalahnya, kerentanannya jadi berkurang. Bahkan sekalipun dia tidak melakukan apapun, tapi setidaknya dia sudah tahu apa yang terjadi, dan bisa, jika dia mau, mengembangkan suatu arah aksi untuk menghadapinya. 

Saat anda mulai mempercayai apa yang anda tahu dibawah permukaan, maka anda akan merasa perubahan itu lebih mudah.

Apakah Anda Sudah Siap?

Sekarang waktunya untuk menyingsingkan lengan baju dan mulai mempelajari skill-skill yang akan membantu anda mengendalikan rasa takut, mengalahkan ke khawatiran, dan menikmati hidup.

“Tidak ada yang akan pernah berusaha,” tulis Samuel Johnson, “jika semua kemungkinan penolakan harus lebih dulu diatasi.” Sama seperti pernyataan ini benar untuk begitu banyak aspek dari kehidupan, pernyataan ini juga benar untuk mengatasi rasa takut anda.

Anda mungkin memiliki semua jenis alasan untuk kenapa anda tidak bisa berubah. Anda tahu alasan-alasan anda. Anda terlalu sibuk. Anda tidak yakin apakah anda akan sukses. Anda tidak punya harapan. Anda khawatir tentang dampaknya. Anda takut. Tentu saja anda takut, tapi itulah kenapa anda perlu membuat komitmen.

Tapi begitu anda sudah mulai mengambil beberapa langkah pertama, maka proses perubahan sepertinya akan jauh lebih mudah dibanding saat anda berdiri di garis start tanpa suatu petunjuk untuk sukses. Melangkahlah dengan yakin. Baca terus tulisan-tulisan berikut ini!

More aboutMemahami Proses Perubahan

Bagaimana Suatu Gaya Hidup Ketakutan Berkembang

Sid, satu-satunya anak yang selamat dari Holocaust, tumbuh besar dalam sebuah rumah tangga yang dihantui oleh rasa takut akan kehilangan dan kesedihan yang datang tak terduga. Dia berjuang dengan rasa takut yang intens sejak masa kanak-kanak.

Ayah Allan meninggal tidak lama setelah sang anak berulang tahun yang ke 13; semenjak itu, Allan merasa tidak yakin mengenai dirinya, prihatin mengenai keamanannya di dalam dunia, dan cemas mengenai setiap kejadian negatif tak terdua berikutnya yang mungkin akan terjadi.

Joanna adalah seorang anak yang gugup dan pemalu. Sekarang saat dewasa, dia masih terus merasa kewalahan dan was-was oleh berbagai aspek dari kehidupannya sehari-hari.

Seperti yang di isyaratkan oleh kisah-kisah ini, sebuah gaya hidup yang penuh ketakutan itu bisa muncul dari berbagai sumber. Terkadang, sumbernya adalah suatu situasi yang jelas, nyata, misalnya saat seorang anak terluka, mengalami trauma, dianiaya, atau ditelantarkan.

Di saat lain, rasa takut tiba melalui rute lain, misalnya penyakit fisik atau emosional, kesulitan finansial yang dialami orang tua, atau kehilangan seseorang yang memiliki hubungan dekat karena perceraian atau kematian. Temperamen bawaan lahir, juga, bisa memperkuat kondisi-kondisi lingkungan.

Tujuan utama dari tulisan ini adalah menawarkan berbagai cara untuk mengubah suatu gaya hidup yang penuh rasa takut. Tapi untuk memahami jalan keluar dari rasa takut, penting juga untuk memahami jalan masuknya.

Asal Mula Suatu Gaya Hidup Penuh Ketakutan

Tidak ada satu penyebab khusus untuk suatu gaya hidup yang penuh dengan ketakutan. Ada beberapa jenis faktor—bahkan faktor-faktor yang berlawanan secara diametris—yang bisa sangat berkontribusi pada suatu kepribadian yang penakut. Berikut ini beberapa faktor yang paling penting:

1. Kejadian-kejadian dari Masa Kecil: Kehilangan dan Trauma

Dari banyak faktor yang bisa berkontribusi terhadap suatu gaya hidup ketakutan, yang paling kuat adalah pengalaman hidup yang tragis atau traumatis.

Trauma fisik atau emosional bisa sangat merusak pemahaman seseorang mengenai dunia sebagai suatu tempat yang aman. Salah satu dampak dari mengalami kejadian tersebut adalah rasa takut bahwa kehilangan akan terulang lagi.

Secara otomatis anda mungkin akan bermain aman, tidak berharap untuk tergoda takdir. Perasaan kehilangan ini terutama bisa parah jika trauma terjadi pada masa-masa awal dalam kehidupan. Traumanya tidak harus banyak; bahkan satu kejadian traumatis saja sudah bisa memberikan dampak yang negatif.

Terlalu Cepat Teralu Banyak—Kisah Catherine

Catherine, yang saat ini berusia 38 tahun, memiliki masa kecil yang indah sampai saat dia menginjak usia 14 tahun. Sama seperti semua orang, Catherine merasa terguncang saat mengetahui ibunya di diagnosa menderita kanker tahap 4 dan meninggal 3 bulan kemudian.

Trauma tersebut menghantam seluruh anggota keluarga dengan kekutatan yang dahsyat. Ayah Catherine tidak mampu mengataasi tugas ganda sebagai orang tua. Secara emosional kondisinya memburuk, melarikan diri ke alkohol untuk menghilangkan kesedihannya.

Karena ayahnya tidak mampu untuk berfungsi sebagai pencari nafkah dan orang tua, Catherine menemukan dirinya berada di posisi sebagai kepala keluarga. Dia bukan cuma harus memasak dan mengurus rumah, tapi juga mengurus adiknya, Alicia, yang saat itu baru berusia 12 tahun.

Catherine mengatasi situasi tersebut dengan cara mengembangkan hypercompetent dan menjadi kaku tentang berbagai tanggung jawabnya di rumah.

Sekarang, setelah lebih dari 20 tahun kemudian, Catherine hidup dalam suatu kondisi sangat cemas yang mewujudkan dirinya terutama sebagai kebutuhan untuk mengontrol. Bahkan sedikit ketidak pastian saja bisa menyebabkan dia merasa cemas bahwa semuanya akan menjadi “buruk.”

Sayangnya, kekakuan dan pesimisme Catherine sering berkontribusi secara tepat pada berbagai kejadian buruk yang dia takuti.

Dia mengasingkan teman-teman dan kerabatnya, mengembangkan suatu reputasi sebagai seorang yang suka mengontrol diantara rekan-rekan bisnisnya, dan membahayakan rumah tangganya dengan selalu bersikeras bahwa semuanya harus dilakukan sesuai dengan keinginannya.

Seperti yang di indikasikan kisah Catherine, kejadian-kejadian traumatis bisa sangat mengubah masa kanak-kanak yang indah menjadi masa-masa dewasa yang penuh beban dan kekhawatiran.

Anak-anak yang terlalu awal memikul suatu peran orang dewasa seringkali melakukan tugas-tugasnya dengan cukup baik dari perspektif luar; tapi di dalam, anak tersebut seringkali dipenuhi dengan kekacauan batin.

Anak tersebut mungkin menjadi cemas dan bertanya pada diri sendiri, “Apakah aku melakukan tugas yang cukup bagus?” Anak tersebut mungkin merasa marah, bertanya-tanya, “Kenapa aku harus melakukan ini?” atau “Kenapa bukan Ayah (atau Ibu)?”

Anak tersebut mungkin berasa sendiri dan kesepian, merasa bahwa dia harus mengurus keluarganya, meski tidak ada orang yang mengurus dirinya. Akhirnya, si anak mungkin merasa marah: “Kenapa Ibu harus meninggal?”

Trauma bisa terjadi dalam berbagai tingkat keparahan. Sebagian kejadian jelas-jelas merusak, seperti apa yang dialami Catherine. Kejadian lain, misalnya kematian yang damai dari nenek atau kakek, mungkin menyerang seseorang sebagai kejadian traumatis tapi anggota dari keluarga yang sama relatif tidak terpengaruh.

Kejadian yang tidak buruk menurut standard orang dewasa mungkin merusak keseimbangan seorang anak, membuatnya shock, atau membuatnya bingung mengenai cara mengatasinya. Salah satu kejadian seperti itu mungkin adalah teman akrab yang tiba-tiba pindah rumah.

Apakah semakin banyak trauma di dalam hidup anda berarti bahwa gaya hidup anda akan jadi penuh dengan ketakutan?

Belum tentu. Sebagian orang yang pernah banyak mengalami trauma mampu untuk tetap tegar dan terbuka terhadap berbagai tantangan dan petualangan dalam hidup meski menghadapi kehilangan yang tragis.

Tapi, truma tentu tetap bisa menjadi suatu faktor utama dari gaya hidup yang penuh rasa takut.

2. Trauma Tak Kentara: Tidak ada Kata-kata untuk Apa yang Terjadi

Orang lain mengembangkan rasa takut sebagai hasil dari trauma rahasia, tersembunyi, yang tidak bisa diungkapkan oleh anak-anak pada siapapun—trauma yang membuat mereka harus menghadapi situasi mereka sendirian.

Salah satu situasi yang paling memicu rasa takut pada anak-anak adalah tidak memahami apa yang terjadi dan tidak ada tempat untuk meminta penjelasan, petunjuk, atau perlindungan.

Anak-anak hanya memliki sedikit pemahaman mengenai makna dari berbagai situasi, sehingga secara natural mereka akan mencari orang lain untuk meminta petunjuk yang bisa membantu mereka dalam memahami dunianya.

Tapi informasi yang mereka dapat dari orang lain itu mungkin membingungkan, tidak benar, atau bahkan benar-benar menyesatkan,

Apa yang Terjadi?—Kisah Joey

Bagi dunia luar, Joey memiliki seorang ibu yang luar biasa, penuh kasih sayang dan perhatian. Tapi Joey merasa bahwa hubungannya dengan ibunya itu membingungkan dan mengerikan. Selama bertahun-tahun, ibunya akan memperilakukannya secara berbeda jika berada di tempat publik dengan jika berada ditempat tertutup.

Ibunya akan bersikap manis, hangat, dan lembut saat ada orang lain di sekitar, tapi akan bertindak tidak pantas, menggoda dan mengontrol saat sendirian dengannya. Joey sering mendengar dari keluarga teman-temannya bahwa ibunya itu luar biasa, tapi pengalaman yang dialami bersama ibunya membuatnya ketakutan.

Dari hari ke hari, Joey tidak pernah tahu akan berubah seperti apa mood ibunya hari itu. Ibunya membuat Joey sangat ketakutan, tapi Joey tidak tahu kenapa. Di saat yang sama, Joey membutuhkan ibunya dan menginginkan kasih sayangnya.

Tapi sikap ibunya tidak bisa diprediksi. Hanya bertahun-tahun kemudian, saat Joey sudah dewasa, dia menyadari bahwa ibunya menderita gangguan bipolar dan juga seorang alkoholik. Realisasi tersebut menjelaskan banyak hal, tapi Joey tidak punya cara untuk memahaminya saat dia masih kecil.

Biasanya, anak-anak tidak tahu cara untuk menjelaskan apa yang salah dalam suatu situasi, dan mereka seringkali merasa berada pada belas kasihan dari orang-orang yang berkuasa dalam hidup mereka.

Akibatnya, mereka melakukan apa yang perlu mereka lakukan agar bisa bertahan di dalam keluarga di mana mereka berasal, menjadi pendiam atau sedih, suka berbicara dengan keras atau mengintimidasi, tunduk atau memberontak.

Sebagai orang dewasa, banyak orang yang terus menjalani kehidupannya dengan perilaku yang sama, meski saat mereka sudah tidak lagi hidup dalam kondisi yang sama. Gaya hidup mereka yang penuh ketakutan telah menjadi begitu familiar bagi mereka sehingga mereka meneruskannya, bahkan saat itu tidak lagi memberikan manfaat.

3. Temperamen dan Genetik

Faktor utama lain yang berkontribusi terhadap gaya hidup yang penuh ketakutan adalah temperamen dan genetik. Temperamen adalah salah satu yang paling kuat dari banyak faktor yang menentukan kepribadian.

Bahkan saat baru lahir, bayi tidak lah benar-benar “kosong” seperti yang dianggap oleh sebagian orang. Sebagian bayi itu punya sifat tenang, sebagian lain sangat gelisah; sebagian mudah kembali tenang saat merasa tidak nyaman, sementara sebagian lain sulit untuk merasa tenang; sebagian lain selalu ingin digendong, sementara sebagian lain menjauhi kontak manusia.

4. Orang Tua yang Ekstrem—Terlalu-dan Kurang Melindungi

Belum ada studi yang menunjukkan bahwa salah satu dari gaya parental tertentu itu lebih baik. Tapi, gaya dan strategi parental yang ekstrem memang menimbulkan masalah.

Sebagian orang tua itu terlalu melindungi, dan tidak mau memberikan kebebasan pada anak-anaknya. Sebagian orang tua yang lain begitu jauh sehingga membiarkan anak-anaknya untuk menjadi rentan terhadap bahaya fisik atau emosional.

Kedua gaya parental ini bisa menciptakan hasil-hasil yang serupa.

Terlalu Melindungi

Secara intuisi anak-anak tahu bahwa mereka tidak akan pernah mendapatkan apa yang mereka inginkan dari kehidupan jika tidak mau mengambil resiko. Faktanya adalah, manfaat dari resiko itu bisa sangat banyak.

Saat orang tua berusaha keras untuk menciptakan suatu kehidupan yang bebas resiko bagi anak-anaknya, maka niat baik tersebut pada akhirnya akan berdampak negatif.

Pengalaman sesekali dari gaya parental yang terlalu melindungi tidak akan menciptakan suatu gaya hidup yang penuh ketakutan.

Tapi, pengalaman yang berulang-ulang bisa memberikan suatu pesan tidak tepat bahwa banyak atau sebagian besar situasi itu berbahaya, dan bahwa sang anak tidak mampu untuk menghadapinya sendirian dan harus selalu bergantung pada campur tangan dan perlindungan dari orang tua agar aman di dalam dunia.

Berikut ini beberapa efek samping negatif dari sikap kumulatif para orang tua yang terlalu melindungi:

  • Menciptakan suatu pemahaman yang keliru mengenai keamanan. Anak-anak yang berada dalam situasi ini cenderung berasumsi bahwa orang tuanya akan selalu bersamanya, dan mereka mengembangkan suatu rasa berlebihan mengenai kekuasaan orang tuanya.

Akibatnya adalah sang anak seringkali menjadi shock dan cemas saat mengalami suatu pengalaman yang menyulitkan, menyusahkan dan menyakitkan.

  • Menghilangkan kesempatan anak-anak untuk mengalami pengalaman-pengalaman berhadapan dengan kesalahan dan kekeliran penilaian mereka, yang sebenarnya perlu. Jika orang tua masuk untuk melindungi anak tersebut dari semua kesulitan dan kesalahan, maka anak tersebut tidak akan belajar mengenai dampak dari aksi-aksinya.

Anak tersebut akan berasumsi bahwa ayah dan ibu akan selalu melindungi, apapun yang dia lakukan. Suatu lingkungan yang bebas dari kegagalan atau frustasi itu lebih banyak menimbulkan masalah dari pada menyelesaikannya.

  • Mengurangi kesempatan anak untuk menaksir resiko, mengatasi situasi yang menantang, belajar skill-skill pemecahan masalah, dan mengembangkan keyakinan diri.

Anak-anak yang masih sangat kecil akan mendapat manfaat dari pesan-pesan untuk menjauhi bahaya. Anak yang berusia 5 atau 6 tahun kebawah belum bisa menaksir resiko, dan belum mampu berpikir abstrak.

Tapi sejak usia 7 atau 8 tahun, anak-anak perlu pengalaman menaksir resiko. Mereka perlu melihat berbagai tingkat bahaya dan belajar untuk membuat keputusan-keputusan yang lebih halus mengenai respon-respon mereka.

Banyak orang tua yang menghalangi proses ini dengan cara memberikan pernyataan-pernyataan semua atau tidak sama sekali (ini aman, itu bahaya) mengenai dunia.

  • Menghalangi anak-anak untuk melihat contoh-contoh realistis. Jika orang tua mau jujur menaksir kehidupannya sendiri, maka mereka umumnya akan mengakui bahwa mereka telah banyak belajar karena mereka mengambil resiko, meski jika hasilnya tidak sesuai harapan.

Mereka mendapatkan pengetahuan, bahkan kebijaksanaan, tentang menghitung biaya-biaya dan manfaat. Mereka telah belajar untuk mencari informasi lebih banyak sebelum mengambil suatu resiko yang besar.

Mereka telah mengembangkan suatu kemampuan untuk menyeimbangkan antara kebutuhan akan kegairahan dengan kebutuhan akan keamanan. Namun orang-orang yang sama ini seringkali membatasi usaha anak-anaknya sendiri untuk menjalani proses dan mendapatkan kebijaksanaan yang sama.

Saat sikap terlalu melindungi mengarah pada rasa takut, itu bukan karena orang tua yang sembrono atau tidak perhatian. Sebaliknya, proses ini terjadi karena orang tua yang terlalu perhatian atau terlalu cemas.

Sebagian orang tua mengklaim bahwa saat anak-anaknya beranjak dewasa, tidak ada yang namanya terlalu berhati-hati. Ironisnya, dengan menjadi terlalu berhati-hati bisa jadi membawa resikonya sendiri, membantu memperkuat ketidak mampuan sang anak untuk mengatasi masalah.

Kurang Melindungi

Kebalikan dari ini adalah gaya parental yang kurang melindungi. Terlalu sedikit itu sama seperti terlalu banyak perlindungan, bisa menimbulkan suatu suasana ketakutan.

Coba perhatikan kisah Catherine. Setelah ibunya meninggal dan ayahnya menjadi alkoholik, Catherine dan adiknya harus menafkahi dirinya sendiri. Catherine, terutama, menanggung suatu beban tanggung jawab yang terlalu berat untuk seorang anak yang baru berusia 14 tahun.

Banyak anak-anak yang memegang peranan pseudoparental seperti itu mengalami efek-efek samping yang serupa saat mereka berjuang menghadapi tugas-tugas yang jauh diatas kemampuan mereka.

Bahkan saat mereka mampu mengatasinya dengan sangat baik, namun dengan mengasumsikan peran-peran orang dewasa saat masih kanak-kanak, akan selalu membawa efek samping negatif terhadap psikologinya.

  • Gaya parental yang kurang melindungi menciptakan suatu pemahaman dasar tentang kecurigaan mengenai dunia. Anak-anak yang tidak dirawat dengan baik (entah secara fisik atau emosional) jarang merasa aman atau tenang berada dalam lingkungan mereka.
  • Gaya parental yang kurang melindungi menciptakan situasi-situasi yang berbahaya, sedangkan anak-anak yang belum tahu cara mengatasi semua masalah dan resiko dalam hidup. Situasi ini menempatkan anak-anak pada resiko, dirumah maupun ditempat lain.

Saat mereka harus menghadapinya sendiri dan tidak ada tempat untuk berlindung, anak-anak seringkali terlibat dalam masalah dengan aktivitas-aktivitas yang bersiko tinggi.

  • Gaya parental yang kurang melindungi seringkali memperingatkan anak-anak untuk khawatir bahwa mereka tidak melakukan suatu pekerjaan yang cukup bagus. Mereka mengembangkan apa yang disebut “impostor syndrome,” merasa bahwa meski dalam realitas mereka mampu mengatasi dengan baik, tapi seseorang akan menemukan betapa sedikit yang sebenarnya mereka tahu atau betapa tidak tenang yang sebenarnya mereka rasakan.
  • Gaya parental yang kurang melindungi membuat anak-anak tidak memiliki contoh-contoh yang cukup. Situasi ini bukan hanya membuat anak-anak menjadi subjek dari harapan-harapan dan tugas yang tidak beralasan, tapi juga membuat mereka harus menanggung tanggung jawab dan masalah tanpa bimbingan.

Karena begitu banyak resiko yang harus di hadapi oleh anak-anak yang dibesarkan dengan gaya parental yang kurang melindungi, maka mungkin akan menyebabkan rasa takut yang berkepanjangan terhadap apa yang diaggap oleh orang lain sebagai kejadian-kejadian biasa dalam kehidupan.

Karena kurang mendapat perlindungan dari orang tua, mereka mungkin tumbuh menjadi orang dewasa yang terus menerus menunggu dalam rasa takut terhadap krisis, rintangan, atau bencana berikutnya.

Alternatifnya, mereka memiliih mengekspresikan rasa takutnya dengan menjadi macho, tampak berani diluar untuk menutupi rasa takut di dalam (misalnya orang-orang yang mencari aktivitas-aktivitas berbahaya atau terlibat dalam hubungan seksual beresiko tinggi).

Dimana yang Pertengahan?

Lalu, bagaimana orang tua bisa merespon terhadap anak-anaknya dalam cara yang tidak berlebihan juga tidak kekurangan?

Penelitian psikolog sosial Stanley Schacter mengindikasikan bahwa saat orang-orang berada dalam suatu situasi membingungkan atau berpotensi mengancam, mereka mengamati atau berkomunikasi satu sama lain untuk menentukan emosi-emosi apa yang seharusnya mereka rasakan.

Selain itu, mereka mencari tahu mengenai kondisi-kondisi emosional orang lain untuk membantu mereka menafsirkan kondisi emosional mereka sendiri.

Hasil penelitian Schacter itu relevan dengan diskusi kita karena membantu kita memahami bagaimana anak-anak mempelajari cara-cara merespon terhadap situasi menakutkan. Jika reaksi orang tua anda ekstrem, maka respon mereka pasti memupuk ke khawatiran di dalam diri anda.

Berikut ini sebuah skenario yang menunjukkan bagaimana tidak respon parental yang berbeda bisa mempengaruhi pandangan emosional dari anak-anak. Bayangkan suatu kecelakaan rutin selama masa kanak-kanak.

Seorang balita, dengan kaki yang masih belum mantap, merasa penasaran untuk menjelajahi dunianya. Karena merasa tertarik oleh suatu mainan baru, dia berlari, kehilangan keseimbangan, dan membenturkan kepalanya ke lantai. Kaget, dia menatap ibunya untuk menentukan apa yang telah terjadi.

Dalam skenario 1, sang ibu sangat ketakutan. Dia panik, berteriak secara histeris, “Ya Ampun!” Sang anak meraung menangis, merasa yakin bahwa sesuatu yang sangat buruk telah terjadi.

Jika ini sering terjadi selama bertahun-tahun, maka skenario ini menempatkan si anak untuk mengembangkan gaya hidup yang penuh ketakutan dan menjadi penakut, selalu was-was, bergantung, kaku atau kompulsif. Saat orang tua terlalu reaktif, itu cenderung memperkuat rasa takut alami seorang anak.

Skenario 2 menunjukkan reaksi yang berlawanan. Saat anak-anak jatuh, ibunya tidak ada atau ada secara fisik tapi tidak responsif secara emosional.

Sangat anak, kaget, merasakan ketidak pedulian atau perhatian dari orang tuanya, yang memperkuat kecemasannya. Atau, beralih ke ibunya untuk mencari kenyamanan yang malah diberi omelan: “Jangan cengeng ah.” Kedua reaksi tersebut membuat si anak tidak mendapatkan apa yang akan menghilangkan rasa takutnya.

Secara kontras, skenario 3 menunjukkan seorang ibu yang tenang tapi tidak cemas. Dia memeriksa si anak, menenangkannya, menciumnya, dan mengatakan padanya bahwa semuanya baik-baik saja. Rasa takut si anak menghilang. Dia meneruskan penjelajahannya.

Melalui respon seperti ini, keluarga menciptakan suatu tempat yang mendorong anak-anak agar tumbuh, mengambil resiko, dan belajar kapan waktunya untuk merasa takut dan kapan waktunya untuk tidak takut. Keluarga yang aman menerima kesalahan dan menghormati penentuan nasib sendiri.

Gaya parenting yang terbaik mendorong keyakinan diri sang anak dan menghormati perasaannya sambil mengajarkannya tentang cara merespon terhadap bahaya-bahaya dari kehidupan. Kisah yang menakut-nakuti juga menundukkan emosional adalah pondasi yang buruk untuk membangun keyakinan diri.

5. Harapan-harapan Parental

Pengaruh signifikan lain yang memupuk suatu gaya hidup penuh ketakutan adalah harapan-harapan tidak realistis, entah yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Katakanlah bahwa orang tua anda berharap anda untuk menjadi sempurna, tidak mentolerir kesalahan penilaian, tidak melakukan kesalahan, kebodohan, kecerobohan, atau malas.

Anda, sebagai seorang anak normal, sudah pasti berantakan, salah mengartikan situasi, salah memahami permintaan, atau saat itu sekedar sedang merasa malas atau tidak termotivasi.

Tapi harapan yang tinggi dari orang tua anda mungkin membuat anda merasa bersalah mengenai perilaku anda, meski perilaku anda untuk masih wajar menurut usia anda. Situasi ini bisa menimbulkan suatu kondisi pikiran yang cemas, karena anda mungkin sangat khawatir tentang “mengecewakan orang tua anda” bahkan saat anda tidak mengecewakan mereka.

6. Atmosfir Keluarga

Anak-anak itu umumnya lebih sensitif dan intuitif dibanding orang tua pada umumnya. Antena emosional mereka itu sangat sensitif terhadap mood di dalam suatu keluarga. Mereka bisa menangkap sinyal-sinyal rasa takut dengan mudah, bahkan saat mereka tidak tahu sumbernya atau tidak memahami apa yang terjadi.

Anak-anak itu pengamat kejadian yang sangat baik tapi penerjemah yang buruk. Mereka akan mengetahui terjadinya perubahan-perubahan, misalnya “Ayah semakin jarang berada di rumah,” atau “Ibu sering marah.”

Untuk alasan ini, orang tua perlu membantu anak-anaknya untuk menerjemahkan kejadian-kejadian dalam suatu cara yang sesuai usia.

7. Respon Parental Terhadap Kejadian Dunia

Selain trauma keluarga, kejadian dan krisis di dunia luar bisa mempengaruhi respon emosional seorang anak. Dengan jangkauan media gambar saat ini, kejadian-kejadian nasional dan internasional, juga bisa menanamkan rasa takut pada anak-anak, bahkan saat malapetaka tersebut terjadi di tempat yang sangat jauh.

Reaksi anak-anak terhadap kejadian-kejadian tersebut akan berbeda, tergantung dari sensitivitas dari anak itu sendiri dan respon orang tuanya.

Jika orang tua membiarkan suatu proses konstan dari gambar-gambar tragis dan mengerikan untuk masuk ke dalam rumah keluarga, maka anak-anak akan kesulitan untuk berhadapan dengan begitu banyak rangsangan yang menakutkan.

Hubungan Saat ini: Membantu atau Membahayakan?

Pengalaman-pengalaman awal memang memiliki suatu pengaruh yang sangat besar terhadap pengembangan emosional dan respon kita pada dunia luar.

Namun, pengalaman masa kecil bukanlah satu-satunya. Karena anda adalah suatu pekerjaan dalam proses, kejadian-kejadian nanti dalam hidup juga bisa memiliki dampak yang besar.

Hubungan cinta terutama bisa sangat vital dalam menyangkut hal ini, entah memberikan hasil positif atau negatif. Sebagian hubungan menawarkan harapan dan janji, sehingga meningkatkan ketegangan dan kecemasan sambil menyediakan perlindungan dan bantuan.

Pikirkan mengenai suatu hubungan dewasa—mungkin dengan seorang teman, kerabat, pasangan, ahli terapi, atau seorang kekasih—yang membuat anda merasa senang mengenai diri sendiri. Jika iya, apakah itu:

  • Menambah keyakinan diri?
  • Membuat anda merasa lebih bergairah?
  • Meningkatkan kemampuan anda untuk menghadapi tantangan tertentu?
  • Mendorong anda untuk mengemukakan pendapat?
  • Memperingatkan anda untuk mengambil aksi?
  • Membantu anda mengembangkan wawasan dan keberanian?
  • Menginspirasi suatu pemahaman yang lebih besar mengenai keamanan?
  • Membantu anda menghargai siapa diri anda dan apa yang anda miliki untuk ditawarkan?
  • Mengurangi ketakuan anda baik dalam intensitas maupun frekuensinya?

Sebaliknya, sebagian hubungan mengkhianati harapan dan janji, karenanya meningkatkan rasa tanggung berkepanjangan sebagai akibat dari kritikan, intimidasi, kebingungan, dan ketidak jelasan. Apakah anda mengalami hubungan seperti ini? Jika iya, apakah anda merasa bahwa itu:

  • Menghilangkan keyakinan diri?
  • Menghilangkan semangat anda untuk mengemukakan pendapat?
  • Memperingatkan anda agar tidak mengambil aksi?
  • Menjaga anda agar tetap berada dalam keadaan bermusuhan, kekurangan, atau penyiksaan?
  • Memperkuat rasa takut, ketidak pastian, dan keraguan?
  • Meningkatkan suatu rasa akan ketergantungan dan kebutuhan?
  • Mempertahankan luka-luka lama agar tidak sembuh?
  • Membiarkan anda merasa pesimis tentang apa yang anda miliki untuk ditawarkan?
  • Meningkatkan ketakutan anda tentang masa kini dan masa depan?

Nah, sekarang anda sudah memahami bagaimana suatu gaya hidup penuh ketakutan berkembang, sekarang waktunya untuk mempelajari skill-skill baru yang akan membantu anda menghancurkan pola-pola lama.

More aboutBagaimana Suatu Gaya Hidup Ketakutan Berkembang

Cara Mengekspresikan Rasa Takut

Orang mengekspresikan rasa takutnya dalam berbagai cara. Yang sangat bervariasi itu memang bukan cuma apa yang mereka takuti, tapi juga cara mereka mengekspresikan ketakutannya.

Banyak dari kita yang sadar, misalnya, bahwa seringkali ada perbedaan antara bagaimana pria dan wanita mengekspresikan ketakutannya. Di mulai sejak masa kanak-kanak, anak perempuan punya lebih banyak contoh untuk mengekspresikan ketakutannya, baik dalam kehidupannya nyata, dalam buku, televisi, maupun film.

Banyak wanita, juga sebagian pria, yang dilatih untuk menjadi berhati-hati, takut, bahkan sangat takut. Sebagian mendapatkan pesan-pesan dari orang tua dan lingkungan yang menganjurkan atau bahkan memberikan reward untuk rasa takut.

Adalah lebih bisa diterima secara sosial bagi wanita untuk mengakui dan mengekspresikan rasa takutnya secara langsung. Bagi sebagian orang, itu bukan cuma bisa diterima, tapi juga hampir diwajibkan.

“Kemana pun aku pergi sebagai seorang remaja,” seorang teman memberi tahu saya, “ibu saya selalu mengatakan, ‘Hati-hati.’ Tidak masalah apakah aku akan pergi ke sekolah, jalan-jalan, atau mengunjungi teman ku.

Tapi pada adik lelaki ku ibu tidak akan mengatakan, ‘Hati-hati,’ dia akan mengatakan ‘Jangan nakal.’ Jika dia nakal, orang tua ku akan merasa sedikit kesal, tapi mereka akan merespon dengan kata-kata sambil lalu misalnya, ‘Namanya juga anak laki-laki.’

Tapi jika aku yang bermasalah, mereka mengatakan, ‘Kan ibu sudah bilang untuk berhati-hati!’ Ada kepanikan bahkan histeris dalam nada suara mereka: ‘Kau bisa diculik, diperkosa, atau dibunuh”

Pria tentu juga merasa takut, tapi masyarakat kita mengajarkan mereka untuk mengabaikan, menolak, atau mengingkarinya. Pria sering menunjukkan rasa takut secara tidak langsung — dengan menjadi marah, mabuk, menjadi penyendiri, atau menghindari situasi-situasi yang mereka tidak tahu cara mengatasinya.

Bahkan suatu situasi rutin, misalnya harus bergantung pada orang lain untuk meminta informasi, mungkin akan menyebabkan rasa takut dan suatu desakan atau pengingkaran rasa takut.

Banyak pria yang harus berjuang dengan rasa takut yang intens tanpa ada cara untuk mendiskusikan, mengekspresikan atau bahkan mengetahui apa yang membuat mereka khawatir.

Meski fakta bahwa rasa takut pria itu lebih tersembunyi — atau mungkin karena ini — tapi rasa takut mereka seringkali menjadi lebih dalam dan lebih membebani.

Apa yang membuat anak laki-laki dan pria relatif lebih enggan untuk mengakui atau menunjukan rasa takut?

Seiring waktu saat anak laki-laki mencapai usia 5 atau 6 tahun, para pria umumnya memiliki pesan internal bahwa rasa takut itu tidak “jantan” dan harus disembunyikan atau di ingkari.

Nantinya, selama tahun-tahun sekolah, budaya yang dominan menempatkan anak  laki-laki untuk mengejek, mengganggu, atau bahkan menghukum secara fisik anak laki-laki lain yang mengekspresikan rasa takutnya secara terbuka.

Seorang anak laki-laki yang tidak menekan rasa takutnya mungkin akan dilabeli seorang “banci,” “penakut,” atau “pengecut.”

Ini mengakibatkan pria dan wanita secara umum menerima pesan-pesan yang jauh berbeda tentang mengakui rasa takut dan tentang bentuk seperti apa rasa takut itu bisa di ekspresikan.

Namun, pertanyaan dasar disini bukanlah apa yang umumnya dirasakan oleh pria dan wanita, melainkan apa yang anda (sebagai individu) rasakan secara spesifik. Apakah anda merasa bahwa rasa takut itu telah merusak kemampuan anda untuk menikmati hidup dan mencapai target? Dan dalam bentuk apa rasa takut itu anda ekspresikan?

Bagaimana Cara Anda Mengekspresikan Rasa Takut?

Meski rasa takut hanya dimulai sebagai suatu bentuk emosi, tapi seiring waktu itu bisa menciptakan suatu konsep diri dan gaya kepribadian.

Untuk membantu anda agar lebih memahami bagaimana anda mengekspresikan rasa takut, berikut ini serangkaian quiz yang bisa anda isi dan beri nilai. Hasilnya akan memberikan anda suatu pemahaman yang jelas mengenai cara anda mengekspresikan rasa takut.

Dibagian bawah setelah quiz ini, saya akan menjelaskan 5 cara utama untuk mengekspresikan rasa takut dan bagaimana itu bisa mempengaruhi anda. Berikut ini cara menggunakan quiz:

  • Berdasarkan skala 1 (“Sama sekali bukan diri ku”) sampai 5 (“Itulah aku!”), rating diri anda pada setiap pernyataan menggunakan panduan berikut ini:

Tidak pernah = 1 poin
Jarang = 2 poin
Terkadang = 3 poin
Sering = 4 poin
Selalu = 5 poin

  • Setelah menyelesaikan kelima quiz, hitung skore total untuk setiap quiz.
  • Rangking cara anda mengekspresikan rasa takut sebagai berikut: total skore tertinggi mengindikasikan cara utama anda mengekspresikan rasa takut, skore terbesar berikutnya adalah cara sekunder anda, dan seterusnya.
  • Urutan yang mengindikasikan skore anda memberikan suatu pandangan umum mengenai cara anda mengekspresikan rasa takut.

Diskusi detil dibagian bawah akan membantu anda untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai cara anda mengekspresikan rasa takut.

Quiz #1

  1. Apakah anda merasa enggan untuk meninggalkan zona nyaman, menghindari situasi-situasi yang mungkin menyebabkan anda menjadi stress atau cemas?
  2. Apakah anda merasa kesulitan untuk memulai perbincangan atau berbicara untuk diri sendiri?
  3. Apakah butuh waktu yang lama bagi anda sebelum memberanikan diri untuk berbicara dengan orang lain pada acara-acara sosial?
  4. Apakah anda sadar mengenai sensasi-sensasi pada tubuh anda saat anda berada di dalam situasi-situasi sosial, misalnya detak jantung meningkat atau perut anda terasa mual?
  5. Apakah anda lebih suka tetap diam dari pada berbicara dengan orang lain?
  6. Apakah anda merasa takut melakukan suatu kecerobohan sosial?
  7. Apakah anda menjauh dari aktivitas-aktivitas sosial, lebih banyak mengahabiskan waktu dengan aktivitas pasif, misalnya membaca, menonton TV, atau menggunakan komputer?
  8. Saat ngobrol dengan orang lain, apakah anda kehilangan fokus pembicaraan karena khawatir tentang pandangan orang lain mengenai diri anda?
  9. Apakah anda tidak suka menjadi pusat perhatian?
  10. Apakah anda merasa tidak nyaman saat seseorang memuji anda?
  11. Apakah anda cenderung untuk hidup di dalam kepala dari pada di dalam tubuh anda?
  12. Apakah anda sering percaya bahwa anda “tidak cukup” (mampu, pintar, menarik, dan seterusnya)?

Skore Total: __

Quiz #2

  1. Apakah anda sering merasa tegang atau gelisah mengenai hal-hal yang terjadi dalam hidup anda?

  2. Apakah orang lain terkadang menggambarkan anda sebagai “terlalu tegang”?

  3. Apakah anda merasa sulit untuk rileks, bahkan saat tidak ada yang benar-benar perlu diatasi?

  4. Apakah anda merasa sulit untuk tertidur, tetap tertidur, atau tidur nyenyak di malam hari?

  5. Apakah anda mudah menjadi waspada terhadap suatu kemungkinan masalah?

  6. Apakah hal-hal sepertinya sering tampak lebih sulit dihadapi bagi anda dibanding bagi orang-orang yang anda kenal?

  7. Apakah anda mendapat saran dari orang lain untuk “tenang” atau “jangan khawatir”?

  8. Apakah anda segera menjadi gugup saat terjadi sesuatu yang tidak diharapkan?

  9. Apakah anda sering menggunakan “Ya Tuhan!”?

  10. Apakah anda sering merasa resah saat mendengar laporan berita, cuaca, atau bisnis?

  11. Apakah anda merasakan ketegangan yang berhubungan dengan masalah di dalam tubuh, misalnya sakit perut, pusing-pusing, atau tegang dibahu?

  12. Apakah menurut anda, anda terlalu banyak memikul tanggung jawab?

Skore Total: __

Quiz #3

  1. Apakah penting bagi anda bahwa orang-orang menyukai atau menyetujui anda?

  2. Apakah anda merasa sulit untuk mengatakan “tidak” pada orang-orang saat mereka meminta sesuatu pada anda?

  3. Apakah anda cenderung untuk memberikan prioritas pada kebutuhan orang lain diatas kebutuhan anda sendiri?

  4. Apakah anda lebih suka memikirkan apa yang harus dilakukan dari pada apa yang ingin anda lakukan?

  5. Apakah anda merasa terganggu saat seseorang merasa tidak suka pada anda?

  6. Apakah anda mencari persetujuan, petunjuk, atau konfirmasi dari orang lain sebelum melakukan apa yang ingin anda lakukan?

  7. Apakah anda merasa kesulitan untuk mengambil keputusan sendiri?

  8. Apakah anda mudah dipengaruhi oleh opini orang lain, mengubah sudut pandang anda saat seseorang tidak setuju dengan anda?

  9. Apakah anda mudah terintimidasi oleh suatu suara marah atau pandangan yang tidak setuju?

  10. Apakah anda enggan untuk berbicara, merasa takut bahwa seseorang mungkin tidak setuju atau tidak suka dengan apa yang anda katakan?

  11. Apakah anda mencoba untuk menekan perasaan marah sehingga tidak membuat suasana memanas dan menjaga agar semuanya tetap tenang?

  12. Apakah anda sering menuruti kemauan orang lain, lalu merasa terluka atau marah sesudahnya karena opini anda tidak dihiraukan?

Skore Total: __

Quiz #4

  1. Apakah orang-orang akan terkejut saat mengetahui tentang apa yang mendasari rasa takut anda?

  2. Apakah anda menjadi mudah marah atau argumentative dengan orang lain sebagai suatu cara untuk lari dari perasaan tidak nyaman anda sendiri?

  3. Apakah orang lain menganggap anda sebagai orang yang kaku, yang selalu ingin semuanya sesuai keinginan anda?

  4. Apakah anda merasa kesulitan untuk bertanya pada orang lain, takut dianggap tidak kompeten?

  5. Apakah terkadang anda membual tentang tidak takut terhadap apapun?

  6. Apakah anda merasa terlalu kaku atau menentang dibanding yang anda inginkan?

  7. Apakah anda ingin bisa lebih santai dan menikmati hidup?

  8. Apakah terkadang anda berpikir bahwa dibalik kemarahan anda, anda banyak menyimpan rasa takut?

  9. Apakah anda cenderung menjadi sarkastis atau sinis terhadap orang-orang dari pada berbicara secara langsung pada mereka mengenai apa yang mengganggu anda?

  10. Apakah anda melindungi diri dengan berakting seolah-olah  suatu serangan yang baik adalah pertahanan yang terbaik?

  11. Apakah anda menganggap rasa takut orang lain itu sebagai indikasi kelemahan atau kekurangan dalam karakternya?

  12. Apakah anda memandang diri sebagai keras diluar, tapi lembut di dalam?

Skore Total: __

Perankingan dan Penaksiran Quiz

Sekarang anda sudah menyelesaikan quiz, masukkan skore total untuk setiap quiz:

Skore untuk Quiz #1—Mengekspresikan takut dengan cara malu: ___
Skore untuk Quiz #2—Mengekspresikan takut dengan cara waspada: ___
Skore untuk Quiz #3—Mengekspresikan takut dengan cara patuh: ___
Skore untuk Quiz #4—Mengekspresikan takut dengan cara macho: ___
Skore untuk Quiz #5—Mengekspresikan takut dengan cara mengontrol: ___

Sekarang rangking cara anda mengekspresikan rasa takut. Jadikan total skore tertinggi sebagai cara utama anda mengekspresikan rasa takut, skore tertinggi berikutnya adalah cara sekunder, dan seterusnya.

Cara mengekspresikan rasa takut yang tertinggi pertama: ________
Cara mengekspresikan rasa takut yang tertinggi kedua: ________
Cara mengekspresikan rasa takut yang tertinggi ketiga: ________
Cara mengekspresikan rasa takut yang tertinggi keempat: ________
Cara mengekspresikan rasa takut yang tertinggi kelima: ________

Saat anda menganalisa ulang hasil-hasil anda, harap di ingat hal-hal berikut ini:

  • Ingat bahwa latihan ini menyediakan tinjauan umum mengenai cara anda mengekspresikan rasa takut; ini bukanlah suatu test resmi, empiris. Tujuan disini adalah untuk mendapat suatu cara mengatasi bagaimana rasa takut berkontribusi terhadap gaya kepribadian anda.
  • Semua orang yang mengikuti quiz ini akan memberikan skore pada setiap pernyataan. Kemungkinan skore terendah pada setiap quiz adalah 12 poin; tertinggi adalah 60. Tapi, skore 12 akan menjadi tidak mungkin, karena itu berarti bahwa anda counterphobic, atau cenderung untuk merespon pada situasi tanpa rasa takut sama sekali. Skore ideal akan berada dipertengahan (20-40), yang menyiratkan rasa takut yang relatif ringan dan wajar terhadap masalah-masalah yang di diskusikan.

5 Cara Mengekspresikan Rasa Takut

Sekarang anda sudah tahu cara apa yang paling dominan anda gunakan untuk mengekspresikan rasa takut dalam hidup anda, berarti sudah waktunya untuk belajar tentang masing-masing jenis kepribadian spesifik.

Harap di ingat bahwa cara-cara mengekspresikan rasa takut ini bukanlah entity yang saling terpisah; kelimanya memiliki kesamaan dalam beberapa fitur penting, dan adalah mungkin bagi seseorang untuk mendapat skore yang tinggi pada lebih dari satu cara.

Namun, orang yang takut umumnya cenderung untuk memiliki suatu cara yang dominan, yang mempengaruhi mereka secara fisik, emosional dan intelektual. Perlu di ingat juga bahwa lima cara mengekspresikan rasa takut yang digambarkan disini bukanlah diagnosa medis, melainkan pola-pola kehidupan.

Agar bisa mempelajari cara mengatasi rasa takut, anda akan mendapatkan manfaat dari mengetahui bagaimana dan dalam situasi apa rasa takut anda terpicu. Berikut ini suatu gambaran umum mengenai lima cara mengekspresikan rasa takut:

1. Malu

Orang yang menggunakan cara ini cenderung untuk menunjukkan perilaku yang pasif, terhambat, terbatas. Orang yang pemalu sering menggunakan motto “Aku merasa tidak aman atau nyaman dengan orang lain.” Rasa takut ini diwujudkan dengan:

  • Suatu pikiran takut
  • Suara yang sunyi
  • Aksi-aksi yang terbatas
  • Tubuh yang diam
  • Hubungan-hubungan yang tercadang

Gerard—Seorang Pria yang Pendiam

Gerard, 44 tahun, adalah seorang programer komputer yang telah bergulat dengan rasa malu di sepanjang hidupnya. Rasa takutnya yang dominan adalah takut terhadap pertemuan-pertemuan akrab, baik secara perseorangan maupun dalam suatu acara yang besar.

Meski sangat sadar akan kesulitan yang selalu dihadapinya, tapi Gerard tetap tidak mampu menghilangkan berbagai keraguan dan rasa malu yang mendasari ketakutannya.

“Aku tahu aku harus menyingkirkan rasa takut ku agar bisa mengambil aksi,” dia mengakui, “tapi aku biasanya menundanya atau sama sekali menghindari situasi tersebut sampai aku tidak punya pilihan lain.”

Peperangannya dengan rasa takut telah berkontribusi terhadap banyak masalah, termasuk rusaknya pernikahannya dan berbagai kepahitan yang menyertainya.

“Setelah aku bercerai, aku hanya duduk di rumah setiap malam dan tidak melakukan apapun. Aku sungguh bodoh. Aku kesepian dan sendirian tapi merasa terlalu takut untuk melakukan apapun. Malahan, aku hanya terobsesi mengenai apa yang salah, mengutuk diri ku, dan membayangkan hal-hal mengerikan yang dikatakan orang mengenai diri ku.”

2. Waspada

Orang yang menggunakan cara ini menunjukkan sikap gugup, gelisah, terlalu responsif dan resah. Motto yang digunakannya adalah “Aku merasa gugup dan khawatir tentang begitu banyak hal.” Orang ini mengekspresikan rasa takutnya dengan:

  • Suatu pikiran yang waspada
  • Suara yang histeris
  • Aksi-aksi yang gelisah
  • Tubuh yang hiperaktif
  • Hubungan yang heboh

Sharon—Gugup dan Tegang

Sharon, seorang ibu yang berusia 38 tahun dan seorang pekerja sosial paruh waktu, adalah seseorang yang sangat perhatian pada semua orang disekitarnya, tapi dia membuat sesuatu yang berpotensi membawa kebaikan ini menjadi suatu kesalahan.

“Aku rasa aku berasumsi bertanggung jawab terhadap lebih banyak hal dibanding yang seharusnya,” Sharon mengakui, “tapi aku takut untuk membuang berbagai keprihatinan ku. Aku mengkhatirkan tentang apa yang akan terjadi jika aku melakukannya.”

Misalnya, dia selalu menjemput anak-anaknya saat pulang sekolah meski saat ini anak-anaknya sudah berusia 12 dan 10 tahun, usia dimana banyak orang tua yang membiarkan anak-anaknya untuk berjalan pulang sendiri atau dengan teman-temannya.

Sharon beralasan: “Meski kami tinggal di lingkungan yang aman, tapi anda tidak akan pernah menjadi terlalu berhati-hati. Anda tidak akan tahu apa yang mungkin terjadi. Suami saya mengatakan saya overprotective dan seharusnya sedikit longgar. Mudah bagi dia untuk mengatakannya tapi tidak mudah bagi saya untuk melakukannya.”

Selain itu, Sharon sering merasa sangat kelelahan karena selalu tergesa-gesa, mengerjakan berbagai kewajiban yang real maupun imajinasi. Dia sendiri sadar bahwa dia perlu menenangkan diri, mengerjakan semuanya dengan tenang, dan membiarkan sebagian hal untuk berkembang tanpa usaha terus menerus dari dia untuk mengaturnya.

Tapi dia merasa kesulitan untuk melakukan itu, “Aku tidak tahu bagaimana cara untuk rileks,” dia mengakui. “Aku merasa kesulitan untuk tertidur—Aku selalu memikirkan tentang masalah-masalah yang mungkin akan muncul dan semua tanggung jawab yang perlu aku tanggulangi.”

3. Patuh

Orang yang patuh itu suka bergantung, ragu-ragu, plin-plan, dan mudah di intimidasi. Orang yang patuh menggunakan motto “Aku hancur jika seseorang tidak setuju dengan ku.” Rasa takutnya diekspresikan dengan:

  • Pikiran yang tidak yakin
  • Suara yang ragu
  • Aksi-aksi yang menghasilkan
  • Tubuh yang berhati-hati
  • Hubungan yang penuh hormat

Doris—Seorang Anak yang Berbakti

Sepanjang hidupnya, Doris, seorang ibu rumah tangga yang berusia 44 tahun, telah tenggelam dalam keraguan. Dalam keluarga dimana dia berasal, dia adalah seorang stereotipikal “anak baik,” yang selalu siap untuk menyenangkan orang lain dan membuat orang tuanya bangga.

Sebagian aspek dari kepribadiannya adalah suatu respon layak terhadap situasi keluarga, yaitu: Ayah doris jarang berada di rumah, dan ibunya sangat kerepotan mengurusi adik-adiknya.

“Aku tahu bahwa ibu membutuhkan aku untuk bisa mengurusi diri ku sendiri,” Doris menjelaskan. “Jadi, untuk itu, aku berpura-pura selalu baik-baik saja—bahkan saat aku merasa sangat takut atau marah atau kebingungan.”

Meski reaksinya bisa dipahami, tapi itu tetap memiliki dampak-dampak yang meragukan. Doris merasa bahwa kewajibannya dalam hidup adalah “Aku bukan cuma khawatir tentang apa yang dipikirkan orang lain, aku bahkan tidak tahu pasti apa yang aku pikirkan. Aku takut untuk memiliki opini ku sendiri. Aku ragu untuk mengambil keputusan. Aku bekerja keras untuk mendapatkan persetujuan dari orang lain.”

4. Macho

Secara kontras, orang macho itu keras dan agresif diluar tapi takut di dalam. Orang yang macho akan membual untuk mengintimidasi, menunjukkan rasa takut hanya saat seseorang menentangnya.

Sikap khasnya adalah “Aku tidak akan menunjukkan pada siapapun—termasuk diri ku—bahwa aku takut.” Rasa takut ini diwujudkan dengan:

  • Suatu pemikiran yang tidak fleksibel
  • Suara yang kasar
  • Aksi-aksi yang berlawanan
  • Tubuh yang kaku
  • Hubungan yang kaku

Rob—Pria Macho

Rob, seorang polisi berusia 28 tahun adalah contoh klasik dari orang macho. Sering digambarkan sebagai “polisi yang tidak takut terhadap apapun,” dia bangga akan reputasinya dan menganggapnya sebagai asset personal dan profesional.

“Tidak ada yang berani macam-macam dengan ku,” Rob membual. “Jika mereka macam-macam, mereka akan menyesal.” Di saat yang sama, secara tertutup dia mengakui bahwa imaje machonya tidak sama dengan apa yang dia rasakan di dalam.

“Dalam realitas, aku seringkali merasa takut. Aku berharap aku sama beraninya seperti apa yang orang kira mengenai diri ku, tapi sebagian besar aku menghindari rasa takut, karena itu lebih mudah untuk dilakukannya. Dari saat aku masih kecil, aku belajar untuk menyembunyikan rasa takut ku dengan baik. Aku tumbuh di lingkungan yang keras di mana aku belajar untuk 'menghadapinya layaknya seorang pria.' Tidak masalah apakah jantung anda berdetak kencang atau urat syaraf anda menegang sampai hampir putus. Hal terburuk yang bisa anda lakukan adalah menjadi seorang pengecut.”

5. Pengontrol

Terakhir, orang yang suka mengontrol itu kompulsif, suka memaksa, dan kritis. “Sungguh membuat ku gila jika hal-hal tidak dilakukan sebagaimana seharusnya” adalah motto dari seorang pengontrol. Dengan mempertahankan suatu pehamaman yang ketat mengenai aturan akan meminimalkan hal-hal yang tak terduga, yang akhirnya meminimalkan rasa takut. Attribut lainnya yaitu:

  • Pemikiran yang kritis
  • Suara yang menuntut
  • Aksi-aksi yang mendorong
  • Tubuh yang tegang
  • Hubungan yang mendominasi

Janice—Karena Aku Mengatakannya Begitu

Janice, yang berusia 34 tahun, single, dan seorang eksekutif humas, adalah seseorang yang suka mengontrol. Dia bangga akan pencapaian profesionalnya dan selalu bekerja keras, seringkali sampai malam.

Tapi, Janice bukan cuma memaksakan dirinya, dia juga memaksa orang-orang disekitarnya. Para bawahannya (bahkan rekan-rekannya) memberinya gelar sebagai si pemberi tugas yang galak.

Sikapnya yang pengontrol telah merusak bukan cuma hubungan kerjanya; kecenderungan untuk mendominasi orang lain ini juga telah merusak hubungan cintanya.

“Saat kekasaih ku mencampakkan aku tahun lalu,” Janice menjelaskan, “dia mengatakan bahwa dia sudah tidak tahan lagi dengan kritikan dan sikap ku yang suka mengontrol. Aku sangat kaget. Aku kira dia tidak cukup baik untuk ku—tapi ternyata dia malah mencampakkan aku. Aku hampir tidak bisa percaya!”

Guncangan karena kehilangan ini mengilhami Janice untuk mengikuti terapi kelompok. Yang membuatnya heran, dia mendapat masukan yang mengkonfirmasi persepsi kekasihnya mengenai sifatnya yang suka mengontrol.

Janice mencoba untuk membela diri: “Orang-orang tidak mengerti bahwa aku punya banyak ketakutan. Kecuali hal-hal dilakukan seperti yang aku anggap terbaik, aku merasa tidak berdaya dan kewalahan. Dengan menjadi pengontrol membuat ku merasa lebih aman. Tapi sekarang aku hidup sendirian, aku menderita. Kedengarannya menyakitkan untuk dikatakan, tapi tanpa seseorang untuk dikontrol, hidup ku sepertinya tidak berarti.”

Takut—Sebuah Pola yang Bisa Anda Ubah

Nah, sekarang anda sudah mengidentifikasi cara anda mengekspresikan rasa takut, berarti anda sudah mengambil suatu langkah yang besar, yaitu mengakui sikap dan pola tingkah laku dalam cahaya yang terang. Selanjutnya apa?

Langkah selanjutnya adalah mengembangkan skill-skill yang akan membebaskan anda dari ikatan-ikatan rasa takut. Berikan diri anda pujian, karena anda sedang berada dijalan untuk mempelajari cara menjalani hidup yang lebih bebas, kehidupan yang lebih penuh dengan petualangan.

Tapi, pertama-tama, mari kita pelajari dulu bagaimana suatu gaya hidup yang penuh rasa takut dimulai.

More aboutCara Mengekspresikan Rasa Takut

Takut Sebagai Suatu Cara Hidup

Jika seseorang bisa memberikan anda sebuah pill ajaib yang akan menghilangkan semua ketakutan anda, bagaimana anda akan menjalani hidup anda secara berbeda?

Jika anda tidak terlalu risau tentang berhati-hati dan menghindari resiko, apa yang ingin anda lakukan? Siapa saja yang ingin anda temui? Kemana anda ingin bepergian? Apa yang akan anda katakan pada seseorang? Akan berubah seperti apa diri anda? Ingin menjadi seperti siapa anda?

Jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut akan mengungkapkan apa saja kerugian yang telah disebabkan oleh sebuah gaya hidup yang penuh dengan ketakutan. Dan jawaban-jawaban tersebut menyiratkan bagaimana kehidupan anda akan berbeda jika anda bisa lebih tenang dan yakin, bukannya khawatir dan was-was.

Saya yakin anda tahu bahwa rasa takut itu adalah suatu masalah bagi anda (atau seseorang yang anda cintai). Sebab jika tidak, maka anda tidak akan membaca tulisan ini. Tapi anda mungkin tidak menyadari bagaimana rasa takut itu telah membatasi kemampuan anda untuk menikmati hidup, bekerja secara kreatif, dan bebas mencintai.

Berikut ini beberapa masalah yang sering ditimbulkan dari suatu gaya hidup yang dipenuhi dengan rasa takut:

1. Membatasi pemikiran. Rasa takut itu bisa membatasi kemauan anda, bahkan untuk sekedar mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang lebih luas dari sekedar pilihan-pilihan sempit yang dibuat berdasarkan prasangka awal.

  • Anda mungkin terjebak ke dalam sebuah pola yang merefleksikan penolakan.
  • Anda mungkin menghabiskan terlalu banyak energi untuk mencari-cari kesalahan dari semua hal, dari pada untuk mempertimbangkan kebaikan atau mencari arah aksi yang lebih baik dari suatu situasi.
  • Anda mungkin melemahkan diri sendiri dengan cara mengkhawatirkan semua kemungkinan negatif, halangan, rintangan, jebakan, masalah atau bencana yang mungkin akan terjadi jika anda mencoba sesuatu yang baru.
  • Anda mungkin merespon saran dan penawaran dari orang-orang dengan cara membiarkan rasa takut yang berbicara: “Itu tidak masuk akal?” atau “Itu tidak mungkin?”

2. Membatasi pilihan. Rasa takut bisa sangat mengurangi variasi dari berbagai pilihan sepanjang hidup, misalnya orang-orang yang bisa anda temui, karir yang bisa anda kejar, perjalanan yang bisa anda lakukan, kesenangan yang bisa anda dapatkan, dan semua itu akan sangat mengurangi pilihan yang anda miliki.

  • Bukannya mencoba menjelajahinya, anda mungkin jadi merasa takut terhadap dunia.
  • Anda mungkin lebih memandang hidup sebagai sebuah beban, bukannya suatu petualangan.
  • Anda mungkin mengatakan pada diri sendiri, “Ada begitu banyak bahaya diluar sana” bukannya, “Ada begitu banyak hal luar biasa yang bisa dilakukan.”
  • Anda mungkin membayangkan bahwa anda tidak punya pilihan lain kecuali hidup di dalam zona nyaman anda yang sangat sempit, lalu mengeluh, “Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, sebab aku tidak punya banyak pilihan.”

3. Membatasi aktivitas. Rasa takut itu bisa memperingatkan anda untuk memperkecil jangkauan aksi-aksi kreatif yang ingin anda ambil.

  • Anda mungkin menghindari peluang-peluang profesional, sosial atau finansial, meski itu memberikan begitu banyak manfaatnya.
  • Anda mungkin jadi terbiasa untuk menolak berbagai ajakan atau menolak untuk “mengejarnya” dari pada mengevaluasi berbagai kemungkinan dengan pikiran terbuka.
  • Anda mungkin “bersembunyi dalam rasa takut” dan menolak kemungkinan berbagai aktivitas karena “aku merasa tidak nyaman dengan itu” atau karena “aku tidak mampu melakukan itu.”

4. Mengurangi kecerian, kesenangan, dan kenikmatan dalam hidup. Sulit untuk bisa menikmati diri sendiri jika begitu banyak energi yang anda hasbiskan untuk merasa takut.

  • Secara fisik, anda mungkin merasa sangat kelelahan dan merasa hampa secara emosional.
  • Anda mungkin merasa bahwa tugas-tugas yang memerlukan kreativitas itu sulit, bahkan tidak mungkin untuk bisa dikerjakan.
  • Anda mungkin memandang persahabatan dan cinta itu lebih sebagai sumber dari sesuatu yang melelahkan, bukannya sesuatu yang menyenangkan dan membahagiakan.
  • Anda mungkin merespon setiap pengalaman baru dengan keluhan dan kecemasan (“Ini terlalu menakutkan! Aku tidak biasa melakukan ini! Aku tidak bisa mengatasi begitu banyak ketidak-pastian!”) dan bukannya dengan antusias dan kegembiraan (“Wow! Ini menyenangkan! Aku sangat menyukainya! Aku senang karena sudah mencobanya! Sungguh suatu pengalaman yang luar biasa!”).

Saat rasa takut membatasi, menghalangi, merintangi, dan mengurangi kebebasan dan kegembiraan dari kehidupan anda, maka yang akan tersisa hanyalah situasi sehari-hari yang rutin, menjemukan dan membosankan, juga momen-momen menakutkan, krisis, serta tragedi yang tidak bisa kita hindari. Padahal kehidupan tidak harus seperti itu.

Butuh bertahun-tahun bagi Ilana untuk memahami bahwa resiko itu adalah suatu bagian penting dari kehidupan yang tidak selalu bisa di hindari.

Dia akhirnya menyadari, bahwa dia terlalu banyak menghabiskan waktu untuk fokus pada berbagai bahaya dan resiko sehingga menghilangkan semua aspek luar biasa dan menyenangkan dari kehidupannya. Kehidupannya tidak lebih dari sekedar “kesialan demi kesialan.”

Karena telah membuang keceriaan dan kesenangan dari kehidupannya, dia menjadi sempoyongan di bawah tekanan “Aku harus menanggung beban ini.”

Utamakan Selamat — Kisah Jake

Butuh bertahun-tahun bagi Jake untuk memahami bahwa “utamakan selamat” itu bukanlah cara terbaik untuk menjalani hidup. Saat ini, di usianya yang menginjak lima puluhan, Jake telah melewati masa perpanjangan dari rasa takut yang telah menghantuinya sejak akhir masa remaja sampai awal dua puluhan.

Meski berbakat dan sangat terlatih sebagai seorang gitaris klasik, tapi Jake merasa takut untuk mengejar karir musiknya, dan merasa ragu untuk menjelajahi peluang lain yang tersedia baginya.

Karena merasa takut akan kegagalan dan penolakan, dia menarik diri dari apa yang telah ditawarkan oleh kehidupan, baik itu dibidang personal maupun profesional.

Dia menemukan pekerjaan sebagai asisten perawat di sebuah rumah sakit begitu menginjak usia 22 tahun.

Jake beralasan bahwa pekerjaan ini akan berfungsi untuk mendukung “hobby musik” nya, sebagaimana dia menyebutnya, sama seperti pemusik, penulis dan aktor lain yang seringkali harus bekerja di restoran atau toko retail untuk mencukupi dirinya.

Teman dan kerabatnya seringkali bertanya kenapa dia lebih memilih pekerjaan yang begitu berbeda dari aspirasi artistiknya. Dia menjawab bahwa dia senang bekerja dengan para pasien, dan pekerjaan di rumah sakit membuatnya bisa memenuhi kebutuhannya.

Meski dia tidak mau mengakuinya, tapi Jake tahu bahwa dengan bekerja sebagai asisten perawat itu juga membuatnya bisa menghindar dari keharusan untuk mengambil keputusan yang berat mengenai karir musiknya.

Karena merasa takut bahwa dia tidak akan mampu untuk sukses sebagai gitaris klasik, dia lebih memilih untuk memendam impiannya dan membiarkan berbagai peluang untuk pergi menjauh.

Perasaan malu yang dimiliki Jake juga telah menghalangi kemampuannya untuk menjalin dan mempertahankan hubungan romantis. Meski sering bertemu dengan wanita-wanita muda yang cantik dan menarik, tapi dia sangat jarang berkencan.

Karena lebih termotivasi oleh rasa takut ketimbang hasrat, dia menjauhkan diri dari mengambil resiko. Dia tidak percaya bahwa ada wanita yang benar-benar menyukainya meski mereka menunjukkan ketertarikan.

Ironisnya, saat Jake benar-benar jatuh cinta beberapa tahun kemudian, dia memilih pasangan seorang wanita pengkritik yang berlawanan secara emosional, yang menguatkan opini negatifnya mengenai dirinya dan kecurigaannya bahwa romantisme itu adalah resiko yang tidak bisa diterima. (Orang yang memiliki kebutuhan neurotic itu punya kemampuan ajaib untuk saling menarik satu sama lain — bahkan dari tempat yang saling saling berjauhan.)

Bertahun-tahun kemudian, Jake menyadari bahwa dia telah ditenggelamkan oleh ketakutannya akan perubahan — dan rasa takutnya terhadap potensinya sendiri. Andai saja dia dulu tahu mengenai apa yang baru saat ini diketahuinya.

Tapi, seperti kata filsuf Denmark Søren Kierkegaard, hidup itu harus dijalani kedepan, tapi kita hanya bisa memahaminya dengan cara melihat kebelakang.

Bagaimana Dengan Rasa Takut Anda?

Kisah Jake hanyalah salah satu contoh mengenai bagaimana gaya hidup yang penuh ketakutan bisa membatasi seseorang yang sebenarnya cemerlang, energik dan terampil.

Jika rasa takut anda tidak terkendali, kemungkinan bahwa anda merasa hidup itu penuh ancaman dan menakutkan — sebagai suatu kejadian menakutkan demi kejadian menakutkan lainnya.

Meski situasi anda mungkin tidaklah sedramatis itu, tapi keprihatinan dan kegelisahan anda bisa tetap merusak kualitas dan hakekat dari kehidupan anda.

Hidup dalam ketakutan itu tidak harus berarti bahwa anda menjadi sangat takut atau tidak mampu berfungsi normal; dan memang, sindrom dari sikap dan perilaku takut itu bisanya lebih halus.

Ada banyak variasi dan cara yang digunakan orang untuk mengekspresikan rasa takut. Berikut ini beberapa yang paling umum:

  • Dengan mengisolasi diri
  • Dengan menjadi terlalu tunduk pada orang lain
  • Dengan menjadi terlalu waspada
  • Dengan mematikan perasaan
  • Dengan menghindari keakraban
  • Dengan menghindari penolakan atau ketidak-setujuan
  • Dengan menjadi terlalu mengontrol
  • Dengan menolak untuk merespon pada semua situasi yang dihadapi
  • Dengan mengembangkan apa yang oleh para psikolog disebut formasi reaksi — berperilaku yang berlawanan arah dari apa yang anda rasakan, misalnya bertindak macho atau menghinakan diri atau tidak acuh terhadap rasa takut anda sendiri.

Rasa takut juga mungkin bersembunyi dalam suatu kebutuhan yang sangat kuat akan keamanan, atau rasa takut anda mungkin bersembunyi dalam bentuk keraguan, ketidak tegasan, ketidak pastian, kecemasan, atau kekakuan.

Atau, anda mungkin merasa sedikit takut dalam bidang fisik (“Tidak ada yang bisa aku lakukan”) tapi merasa sangat takut dibidang emosional (“Aku merasa takut kesepian” atau “Aku merasa sangat takut mengenai apa yang dipikirkan orang lain mengenai diri ku”).

Berbagai dampak dari suatu gaya hidup yang penuh ketakutan ini biasanya di ekspresikan dalam berbagai variasi kombinasi, dan efek-efek kumulatifnya pada setiap orang bisa berbeda-beda, mulai dari merasa agak kurang nyaman sampai paralysis atau panik.

Suatu Cara Hidup, Bukan Suatu Diagnosa

Sebelum kita melanjutkan, Saya ingin membedakan antara rasa takut yang berlebihan dan tidak perlu sebagai suatu diagnosa medis, dengan rasa takut sebagai suatu pendekatan berdasarkan pengalaman terhadap kehidupan.

Banyak dari kita yang cenderung untuk menganggap rasa takut itu sebagai suatu penyakit mental — misalnya phobia, reaksi panik, reaksi kecemasan, dan posttraumatic stress disorder (PTSD).

Meski semua itu memang adalah suatu gangguan, tapi disini saya memandang rasa takut dari sisi non-medis — bukan sebagai hasil diagnosa atau suatu penyakit, melainkan sebagai suatu pola dari pengalaman yang telah kita pelajari dan yang bisa kita lupakan (tidak pelajari lagi).

Tulisan ini memfokuskan pada diri seseorang secara utuh, bukannya sekedar setumpuk gejala kecemasan. Tulisan ini menekankan bagaimana cara mencapai kehidupan yang memperkaya, bukan menekankan pada kehidupan yang menyusahkan.

Orientasinya sama seperti perbedaan antara mengatasi masalah berat badan dengan cara berdiet versus mengembangkan suatu pola makan yang sehat.

Berdiet itu adalah suatu solusi jangka pendek, dengan sedikit kemungkinan untuk sukses dalam jangka panjang. Sedangkan pola makan yang sehat itu adalah pendekatan berorientasi solusi kualitas hidup jangka panjang.

Penekanan saya disini adalah menjauh dari suatu contoh penyakit mental (Apa yang salah dengan diri anda?) dan mendekat ke arah kesejahteraan mental (Apa yang akan memperkaya hidup anda?).

Tapi jika, seperti yang saya isyaratkan, sebuah gaya hidup yang penuh ketakutan itu tidaklah mesti suatu penyakit mental, kenapa itu bisa tetap menyebabkan begitu banyak kerusakan ke dalam hidup anda? Dan bagaimana itu bisa berkembang?

Kita akan mengamati topik tersebut secara lebih detil pada bagian ketiga, dan untuk saat ini saya hanya akan membahasnya secara singkat.

Sebuah gaya hidup yang penuh ketakutan bisa berkembang dengan berbagai cara, tapi satu hal yang pasti, jika anda terlalu sering mengalami rasa takut, terlalu intens, atau untuk waktu yang terlalu lama — terutama saat anda masih berusia muda — maka anda akan mengembangkan suatu kondisi pikiran yang mempengaruhi bagaimana anda menjalani hidup dalam dunia ini.

Bukannya menjadi suatu cara untuk merespon terhadap situasi spesifik, rasa takut malah menjadi suatu cara hidup.

Apa yang saya gambarkan adalah analogi terhadap perbedaan antara merasa marah dalam merespon terhadap seseorang yang mengejek anda (suatu reaksi yang wajar terhadap situasi spesifik) dengan menjadi seseorang yang pemarah (suatu cara hidup).

Atau itu seperti perbedaan antara merasa sedih saat kehilangan seseorang (suatu respon wajar terhadap situasi spesifik) dengan menjadi seseorang yang melankolis (suatu cara hidup).

Saat takut menjadi prioritas dalam hidup anda, maka gaya hidup anda itu diarahkan untuk mengakomidasi ketakutan, bukannya mengatasinya. Anda cenderung selalu waspada terhadap berbagai bahaya — bahaya dalam pekerjaan, bahaya di rumah, bahaya dalam hubungan anda, bahaya dalam dunia yang lebih besar.

“Mengawasi” menjadi suatu mentalitas di mana pikiran anda selalu berada dalam keadaan waspada terhadap bahaya. Anda cepat merespon dengan rasa takut bahkan terhadap situasi-situasi yang tidak mengancam.

Anda jadi belajar untuk menghindari resiko-resiko yang sebenarnya perlu, sehingga menghalangi anda dari mendapatkan pengalaman yang bisa jadi bermanfaat untuk anda dalam jangka panjang. Anda mengembangkan suatu kebutuhan akan keamanan tidak pernah puas. Singkatnya, rasa takut menjadi suatu mind-set atau pola pikir.

Meski anda mungkin berkhayal tentang suatu kehidupan yang aman, tentram dan pasti, tapi dalam kehidupan nyata, kualitas-kualitas ini hanya bisa bersifat relatif. Tidak ada keamanan yang absolut. Hidup itu adalah suatu bisnis yang beresiko.

  • Dengan hidup, kita beresiko untuk mati.
  • Dengan mencintai, kita beresiko untuk kehilangan.
  • Dengan merasa, kita beresiko untuk tersakiti.
  • Dengan belajar, kita beresiko untuk merasa bodoh.
  • Dengan mencoba, kita beresiko untuk gagal.
  • Dengan berbicara, kita beresiko untuk merasa konyol.
  • Dengan sukses, kita beresiko untuk mencapai batasan-batasan kita.

Bisakah anda mengambil langkah-langkah tertentu untuk meminimalkan berbagai resiko ini? Tentu.

Akankah anda bisa mengeliminasi semua resiko? Tidak akan pernah.

Karenanya, bagaimana anda bisa menjalani hidup dengan resiko-resiko ini? Bagaimana anda bisa menemukan cara untuk mengatasi rasa takut, ragu, dan ketidak pastian?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan kita jawab.

Takut itu adalah Suatu Respon Adaptive (Terkadang)

Bagaimana anda bisa tahu apakah rasa takut anda itu adalah adaptive, yang membantu anda untuk bertahan hidup,  siaga, dan berhati-hati secara tepat?

Bagaimana anda tahu apakah rasa takut anda itu maladaptive, yang tidak menguntungkan dan membuat kehidupan, pekerjaan, dan cinta menjadi sulit bahkan tidak mungkin? (bagi sebagian orang)

Berikut ini quiz singkat yang bisa membantu anda untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penting tersebut:

Apakah Rasa Takut Anda Adaptive atau Maladaptive?

Jawab dengan salah atau benar setiap pernyataan berikut ini yang menggambarkan rasa takut anda secara umum:

  1. Rasa takut ku biasanya membantu ku dalam menghadapi tantangan, ancaman, dan ketidak pastian tertentu.
  2. Rasa takut ku adalah respon terhadap berbagai situasi yang mungkin atau mungkin juga tidak mengancam atau berbahaya.
  3. Rasa takut ku itu sesuai dengan tingkat tantangan, ancaman, atau ketidak pastian yang sedang aku hadapi.
  4. Rasa takut ku itu tidak sesuai dengan tingkat tantangan, ancaman, atau ketidak pastian yang sedang aku hadapi.
  5. Rasa takut ku itu relatif terbatas waktu; dia meningkat pada saat bahaya, kemudian berangsur menghilang.
  6. Rasa takut ku cenderung untuk terbuka dalam waktu juga fokus; pada waktunya itu mungkin adalah suatu kondisi pikiran yang terus menerus, generalisasi.
  7. Rasa takut ku berakhir dengan suatu perasaan lega saat aku sukses mengurangi atau menghilangkan sumber ketakutan.
  8. Rasa takut ku tetap bertahan bahkan saat sumber ketakutan menghilang atau berakhir.
  9. Rasa takut ku bervariasi terkantung pada tingkat ancaman.
  10. Rasa takut ku tidak selalu bervariasi sesuai dengan tingkat bahaya.

Untuk menilai hasil anda, jumlahkan jawaban benar untuk pernyataan dengan nomor ganjil; sekarang jumlahkan jawaban benar untuk pernyataan dengan nomor genap.

Semua pernyataan dengan nomor ganjil mengambarkan reaksi yang bisa dikelompokkan sebagai rasa takut adaptive. Sedangkan semua pernyataan dengan nomor genap menggambarkan reaksi yang bisa dikelompokkan sebagai rasa takut maladaptive.

Jika anda punya lebih banyak jawaban benar untuk pernyataan dari nomor ganjil dibanding genap, berarti rasa takut anda itu lebih kearah adaptive dibanding maladaptive.

Rasa takut adaptive adalah suatu emosi yang telah menyelamatkan nyawa banyak orang dalam situasi-situasi yang sulit. Rasa takut adaptive itu seringkali perlu dan tepat; itu memperingatkan kita akan bahaya yang real. Jika skore anda tinggi untuk rasa takut adaptive, selamat. Rasa takut anda telah bekerja untuk membantu anda.

Jika anda punya lebih banyak jawaban benar untuk angka genap dibanding ganjil, berarti rasa takut anda itu lebih kearah maladaptive ketimbang adaptive, dan anda punya tugas perlu dikerjakan. Rasa takut seharusnya muncul saat dibutuhkan tapi dia tidak boleh mengontrol anda jika tidak bermanfaat atau melindungi.

Rasa takut adaptive itu adalah suatu nuansa emosi yang berangsur menghilang selama masa-masa aman, sedangkan rasa takut maladaptive selalu tersembunyi dipermukaan, dan akan segera muncul untuk menampakkan kehadirannya setiap kali ada ketidak nyamanan, ketidak pastian, atau perubahan.

Nah sekarang kita sudah tahu bagaimana rasa takut bisa merusak kehidupan anda, mari kita melihat pada berbagai cara orang dalam mengekspresikan ketakutannya.

More aboutTakut Sebagai Suatu Cara Hidup